Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 September 2013

Observatorium Bosscha di Lembang Bandung Jawa Barat

Observatorium Bosscha
Observatorium Bosscha merupakan salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda.

Observatorium Bosscha berlokasi di Lembang, Jawa Barat, sekitar 15 km di bagian utara Kota Bandung dengan koordinat geografis 107° 36' Bujur Timur dan 6° 49' Lintang Selatan. Tempat ini berdiri di atas tanah seluas 6 hektare, dan berada pada ketinggian 1310 meter di atas permukaan laut atau pada ketinggian 630 m dari dataran tinggi Bandung.

Kode observatorium Persatuan Astronomi Internasional untuk observatorium Bosscha adalah 299. Tahun 2004, Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah. Karena itu keberadaan Observatorium Bosscha dilindungi oleh UU Nomor 2/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Selanjutnya, tahun 2008, Pemerintah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu Objek Vital nasional yang harus diamankan.

Latar belakang pendirian

Pada permulaan abad ke-20, para astronom mulai menyadari bahwa bintang-bintang terikat satu sama lain membentuk sistem galaksi. Keinginan untuk meneliti dan memahami struktur galaksi tersebut mendorong dibangunnya berbagai teleskop besar di Belahan Bumi Selatan karena sebelumnya teleskop berukuran besar hanya terkonsentrasi di Belahan Bumi Utara, terutama di Eropa dan Amerika Utara.

Ide pembangunan observatorium di Hindia Belanda dikemukakan oleh insinyur-astronom kelahiran Madiun, Joan George Erardus Gijsbertus Voûte. Beliau melihat bahwa penelitian astronomi terhambat karena kurangnya jumlah observatorium dan pengamat di Belahan Bumi Selatan. Pada awalnya, Voûte meneliti di Cape Observatory, Afrika Selatan, namun kurangnya dukungan pemerintah setempat membuat Voûte kembali ke Batavia, Hindia Belanda.

Voûte berusaha mempengaruhi beberapa astronom di Belanda untuk membangun Observatorium di Hindia Belanda. Persahabatan antara Voûte dengan pengusaha kaya Karel Albert Rudolf Bosscha dan Rudolf Albert Kerkhoven semakin memperkuat dukungan terhadap pembangunan Observatorium.

Pembiayaan

Bosscha mengumpulkan pengusaha dan orang-orang terpelajar untuk membentuk organisasi Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV—Perkumpulan Astronom Hindia Belanda) untuk menyalurkan uang bagi pembangunan observatorium. Hingga tahun 1928, diperkirakan organisasi ini mampu menyumbangkan 1 juta Gulden untuk dana pendirian dan operasional harian observatorium. Sebidang tanah di Lembang telah disumbangkan oleh Ursone bersaudara, pengusaha pemerahan sapi Baroe Adjak, dan hak kepemilikan tanahnya telah diserahkan kepada NISV.

Bosscha dan Voûte kemudian memberikan mandat kepada Observatorium Leiden untuk mengawasi pembelian instrumen untuk observatorium. Bosscha meminta saran kepada direktur Observatorium Leiden, Ejnar Hertzsprung, mengenai pengadaan teleskop dan juga mengenai sistem pikul teleskop. Ia berharap untuk dapat memanfaatkan jatuhnya nilai tukar Mark Jerman pasca Perang Dunia I agar dapat memperoleh teleskop Jerman berkualitas baik dengan harga murah.


Pada awal tahun 1921, Bosscha bersedia membayar sebuah teleskop dengan garis tengah 60 cm dan panjang fokus 10 meter. Teleskop ini kemudian dipesan dari perusahaan optik ternama Jerman, Carl Zeiss Jena. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.

Pembangunan

Konstruksi Observatorium Bosscha dimulai pada tahun 1923. Pada tahun 1925 program pengamatan sudah dimulai dengan instrumen yang ada. Carl Zeiss membutuhkan waktu tujuh tahun untuk membuat dan mengantarkan teleskop 60 cm, yang tiba pada tahun 1928. Voûte berkutat dengan kalibrasi teleskop besar tersebut selama dua tahun berikutnya hingga ia puas dengan kinerjanya. Semenjak tahun 1923, Voûte mulai mengundang astronom-astronom Belanda untuk bekerja di Observatoriumnya.

Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah perang usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.

Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia.

Fasilitas

Teleskop Refraktor Ganda Zeiss

Teleskop ini merupakan jenis refraktor (menggunakan lensa) dan terdiri dari 2 teleskop utama dan 1 teleskop pencari (finder). Diameter teleskop utama adalah 60 cm dengan panjang fokus hampir 11 m, dan teleskop pencari berdiameter 40 cm. Instrumen utama ini telah digunakan untuk berbagai penelitian astronomi, antara lain untuk pengamatan astrometri, khususnya untuk memperoleh orbit bintang ganda visual.

Selain itu, teleskop ini juga digunakan untuk pengamatan gerak diri bintang dalam gugus bintang, pengukuran paralak bintang guna penentuan jarak bintang. Pencitraan dengan CCD juga digunakan untuk mengamati komet dan planet-planet, misalnya Mars, Jupiter, dan Saturnus. Dengan menggunakan spektrograf BCS (Bosscha Compact Spectrograph), teleskop ini secara kontinu melakukan pengamatan spektrum bintang-bintang Be.

Teleskop Schmidt Bima Sakti

Teleskop Schmidt Bima Sakti mempunyai sistem optik Schmidt sehingga sering disebut Kamera Schmidt. Teropong ini mempunyai diameter lensa koreksi 51 cm, diameter cermin 71 cm, dan panjang fokus 127 cm. Teleskop ini biasa digunakan untuk mempelajari struktur galaksi Bima Sakti, mempelajari spektrum bintang, mengamati asteroid, supernova, Nova untuk ditentukan terang dan komposisi kimiawinya, dan untuk memotret objek langit. Diameter lensa 71,12 cm. 

Diameter lensa koreksi biconcaf-biconfex 50 cm. Titik api/fokus 2,5 meter. Juga dilengkapi dengan prisma pembias dengan sudut prima 6,10, untuk memperoleh spektrum bintang. Dispersi prisma ini pada H-gamma 312A tiap malam. Alat bantu extra-telescope adalah Wedge Sensitometer, untuk menera kehitaman skala terang bintang , dan alat perekam film.

Teleskop Refraktor Bamberg

Teropong Bamberg juga termasuk jenis refraktor yang ada di Observatorium Bosscha, dengan diameter lensa 37 cm dan panjang fokus 7 m. Teropong ini berada pada sebuah gedung beratap setengah silinder dengan atap geser yang dapat bergerak maju-mundur untuk membuka atau menutup. 

Karena konstruksi bangunan, jangkauan teleskop ini hanya terbatas untuk pengamatan benda langit dengan jarak zenit 60 derajat, atau untuk benda langit yang lebih tinggi dari 30 derajat dan azimut dalam sektor Timur-Selatan-Barat. Untuk obyek langit yang berada di langit utara atau azimut sektor Timur-Utara-Barat praktis tak dapat dijangkau oleh teleskop ini.

Teleskop ini selesai diinstalasi awal tahun 1929 dan digerakkan dengan sistem bandul gravitasi, yang secara otomatis mengatur kecepatan teleskop bergerak ke arah barat mengikuti bintang yang ada di medan teleskop sesuai dengan kecepatan rotasi bumi. Teleskop ini juga telah dilengkapi dengan detektor moderen, menggunakan kamera CCD. 

Teleskop ini biasa digunakan untuk menera terang bintang, menentukan skala jarak, mengukur fotometri gerhana bintang, mengamati citra kawah bulan, pengamatan matahari, dan untuk mengamati benda langit lainnya. Dilengkapi dengan fotoelektrik-fotometer untuk mendapatkan skala terang bintang dari intensitas cahaya listrik yang di timbulkan. Diameter lensa 37 cm. Titik api atau fokus 7 meter.

Teleskop Cassegrain GOTO

Teleskop Goto berjenis reflektor Cassegrain dengan diameter cermin utama 45 cm. Cermin utama yang berbentuk parabola memiliki panjang fokus 1,8 m dan cermin sekunder yang berbentuk hiperbola memiliki panjang fokus 5,4 m. 

Teleskop ini merupakan bantuan dari kementrian luar negeri Jepang melalui program ODA (Overseas Development Agency), Ministry of Foreign Affairs, pada tahun 1989. Dengan teleskop ini, objek dapat langsung diamati dengan memasukkan data posisi objek tersebut.

Kemudian data hasil pengamatan akan dimasukkan ke media penyimpanan data secara langsung. Teropong ini juga dapat digunakan untuk mengukur kuat cahaya bintang serta pengamatan spektrum bintang. Dilengakapi dengan spektograf dan fotoelektrik-fotometer

Teleskop Refraktor Unitron

Teleskop Unitron adalah teropong refraktor dengan lensa obyektif berdiameter 102 mm dan panjang fokus 1500 mm. Teropong ini diinstalasi pada mounting Zeiss yang masih asli dengan sistem penggerak bandul gravitasi, sama seperti pada teropong Bamberg.

Dari segi ukuran, teropong ini baik untuk pengamatan matahari maupun bulan, dan banyak digunakan untuk praktikum mahasiswa. Dengan ukuran yang kecil dan ringan, teropong ini mudah dibawa dan telah beberapa kali digunakan dalam ekspedisi pengamatan gerhana matahari total, misalnya tahun 1983 di Cepu, Jawa Tengah, dan tahun 1995 di Sangihe Talaud, Sulawesi Utara. 

Teleskop ini biasa digunakan untuk melakukan pengamatan hilal, pengamatan gerhana bulan dan gerhana matahari, dan pemotretan bintik matahari serta pengamatan benda-benda langit lain. Dengan Diameter lensa 13 cm, dan fokus 87 cm

Teleskop Surya

Teleskop ini merupakan teleskop Matahari yang terdiri dari 3 buah telekop Coronado dengan 3 filter yang berbeda, serta sebuah teleskop proyeksi citra Matahari yang sepenuhnya dibuat sendiri. Fasilitas ini merupakan sumbangan dari Kementerian Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan, Negeri Belanda, Leids Kerkhoven-Bosscha Fonds, Departemen Pendidikan Nasional, serta Kementerian Negara Riset dan Teknologi

Teleskop radio 2,3m

Teleskop radio Bosscha 2,3m adalah adalah instrumen radio jenis SRT (Small Radio Telescope) yang didesain oleh Observatorium MIT-Haystack dan dibuat oleh Cassi Corporation. Teleskop ini bekerja pada panjang gelombang 21 cm atau dalam rentang frekuensi 1400-1440 MHz. Dalam rentang frekluensi tersebut terdapat transisi garis hidrogen netral, sehingga teleskop ini sangat sesuai untuk pengamatan hidrogen netral, misalnya dalam galaksi kita, Bima Sakti.

Selain itu, teleskop ini dapat digunakan untuk mengamati obyek-obyek jauh seperti ekstragalaksi dan kuasar. Matahari juga merupakan obyek yang menarik untuk ditelaah dalam panjang gelombang radio ini. Obyek eksotik, seperti pulsar, juga akan menjadi taget pengamatan dengan teleskop radio ini.

Jumat, 03 Mei 2013

Profile UMKM CIPATAT


Profile UMKM CIPATAT
UMKM Cipatat berdiri pada tanggal 20 pebruari 2011 di kampung Cimerang RT04/RW12 Desa Citatah Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat. Atas prakarsa Pengurus Koperasi Warga Pasar Suka rame (KOWARPAS). 
Setelah 1 (satu) tahun berjalan kami mengalami jatuh bangun,tapi banyak jatuhnya dari pada bangunnya. Namun demikian kami tidak patah arang semuanya kami lalui dengan penuh kesabaran


Alhamdulillah walaupun serba kekurangan semuanya berjalan dengan lancar walaupun terseok seok, 


UMKM CIPATAT anggotanya terdiri dari berbagai macam latar belakang Pangabisa dari Pengrajin Pahatan batu yang keras, ngangon ternak, bercocok tanam/tani, berkebun sampai dengan pengrajin makanan olahan, disini kami berkumpul untuk melakukan upaya upaya dalam alur kebersamaan untuk mengatasi persoalan persoalan yang sedang dihadapi oleh Bangsa Indonesia tercinta khususnya masyarakat Cipatat


Dalam melakukan usaha tersebut kami menghadapi berbagai macam persoalan, hambatan dan rintangan, dari persoalan Alat Produksi  karena peralatan kami masih manual alias pake tangan kosong sampai dengan Modal Usaha dan Pemasaran tapi masih beruntung ada pengurus Koperasi/ KOWARPAS yang masih peduli mengarahkan kami untuk mencapai tujuan




Sampai akhirnya atas usulan Pengurus Koperasi Warga Pasar Sukarame/ KOWARPAS pula kami mencoba membuat keputusan untuk membuat BLOG ini agar kegiatan kami dapat diakses dan diketahui  oleh lembaga atau instansi bersangkutan untuk selanjutnya, barangkali.... yah barangkali diberi Pembinaan dan petunjuk agar pengrajin Cipatat khususnya Kelompok Usaha "MULTI KARYA" dapat bangkit dan berdiri untuk mengejar ketertinggalan. Hah......cape deh!!!


Oh ya, bagi siapa saja yang mau berpartisipasi dan peduli kepada kami silahkan hubungi kami melalui telepon, email atau kontak di blog dibawah

Akhirnya kami ucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan memandu mengarahkan kami  pada situasi dan kondisi yang lumayan relatif kondusif dibandingkan sebelumnya (Espesialy for KOWARPAS)

Sambil menunggu nasib baik berpihak kepada kami
Kelompok Usaha MULTI KARYA-CIPATAT


Contact:
UMKM Cipatat

                             Facebook
                             Twitter


 
email             :        ukmcipatat@gmail.com
:          umkmcipatat@yahoo.co.id

Phone           :        +6281395143295
==================================================

Sekilas tentang CIPATAT

Sekilas tentang CIPATAT
Cipatat adalah ibu kota kecamatan yang terletak disebelah barat kabupaten Bandung Barat yang berbatatasan dari sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Haurwangi kabupaten Cianjur, sebelah utara dengan kecamatan Cipundeuy, sebelah selatan dengan kecamatan Saguling dan dari sebelah timur dengan kecamatan Padalarang. Daerahnya terdiri dari pegunungan dan perbukitan kapur yang terjal dan lembah lembah yang subur


Keadaan Alam
Secara geografis wilayah Cipatat terletak diantara dua wilayah Kabupaten kota yaitu kabupaten Cianjur dan kabupaten Bandung induk, dan Cipatat sendiri berada di belahan barat Kabupaten Bandung Barat (Citarum River West Bang), juga diapit oleh dua Waduk Raksasa dijawa Barat yaitu Waduk Saguling dan Waduk Cirata

Kondisi seperti tersebut membuat daerah Cipatat menjadi daerah yang subur, konon katanya tingkat kesuburan tanahnya mencapai 15 meter. Memang benar hampir semua tanaman dapat tumbuh dengan baik disini.

Sumber Alam 
Wilayah Cipatat dilalui oleh 2 (dua) buah sungai  besar yaitu sungai citarum dan sungai cimeta dan diakelilingi oleh deretan pegunungan dan bukit yang dapat menyimpan cadangan air yang cukup banyak. Keadaan ini mempengaruhi kontur tanah di cipatat jadi basah dan gembur sehingga dapat ditanami oleh berbagai macam spesies tumbuhan dan binatang air. Oleh karena hal terebut, maka kekayaan alamnya menjadi variatif dan melimpah

Sumber alam yang menjadi andalan bagi masyarakat cipatat diantaranya: Padi. Palawija (pisang, singkong, mentimun, jagung, cabe dan lain sebagainya), perikanan, peternakan, Batu kapur, batu basato/andersit, marmer dan pasir, dan benda inilah yang menjadi sumber kehidupan masayarakat cipatat  

Pariwisata
Cipatat mempunyai tempat tempat nan elok dan indah sangat cocok sebagai tempat rekreasi dan istirahat bercengrama dengan sanak dan keluarga. Yang menjadi paforit bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara adalah Pemandian air panas, wisata arung jeram, kulineer, wisata arkeologi Gua pawon, panjat tebing mendaki gunung, lintas alam dan lain lain

Mata pencaharian
Yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat cipatat yang paling dominan adalah bercocok tanan padi dan palawija, kemudian berdagang, kuli/buruh, kerajinan makanan olahan, hadycraft, ternak ayam dan kambing

Peuyeum Cipatat RiwayatMu Ini
Tapai singkong dalam bentuk utuh alias peuyeum sudah lama kondang sebagai buah tangan khas Bandung. Meski dari Bandung, tahukah Anda, yang awal mempopulerkan peuyeum ini justru warga Desa Bendul, Purwakarta, Jawa Barat.

Mereka mengenalkan peuyeum ketika mengadu nasib di Kampung Citatah, Cipatat, Bandung Barat. Tempat ini yang kemudian terkenal sebagai sentra peuyeum di Bandung. Dari sini, peuyeum lantas menyebar ke mana-mana.

Sekarang, ada sekitar 50 kios yang menjual peuyeum di kelokan jalan raya Cipatat sebelum masuk Padalarang- Bandung, kalau dari arah Puncak, Bogor. Di sentra itu, penganan nan manis serta legit itu dijual Rp 6.000 - Rp 7.000 per kilogram (kg).

Muhammad Basor, pemilik kios Jakiah di kampung Citatah, berkisah bahwa peuyeum di daerah Citatah sudah ada sejak tahun 1980. Awalnya pembuatan peuyeum ini dikenalkan penduduk Bendul, Purwakarta. Kala itu, masyarakat Bendul menyewa kios-kios di pinggir jalan raya Cipatat untuk berjualan peuyeum.

Tak lama kemudian, masyarakat Kampung Citatah meniru cara pembuatan peuyeum dan kemudian memproduksi lalu menjualnya sendiri. "Dulu peuyeum di sini sering disebut peuyeum bendul, namun karena sudah menyebar ke mana-mana maka namanya berubah menjadi peuyeum gantung," kata Basor.

Karena laris manis, banyak warga Citatah yang beralih profesi dari petani singkong menjadi pembuat sekaligus penjual peuyeum. Basor, salah satunya.

Ia berjualan tapai singkong itu sejak medio 1980-an, kala itu ia masih ikut membantu orang tuanya. Selepas lulus sekolah menengah atas (SMA), orang tuanya membukakan satu kios untuk berjualan peuyeum.

Basor tidak memproduksi peuyeum sendiri. Dia membeli peuyeum dengan harga Rp 300.000 per kuintal di rumah industri pembuatan peuyeum yang berlokasi di kampung Citatah.

Kemudian ia menjualnya dengan harga Rp 600.000 per 1 kuintal. Basor juga menjual dengan sistem eceran seharga Rp 6.000 - Rp 7.000 per kg. Ia mengaku bisa mendapatkan omzet rata-rata sebesar Rp 10 juta per bulan dengan laba bersih 30%.

Para pembeli tapai miliknya, kebanyakan para pelancong dari luar Bandung, misal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. "Peuyeum biasanya dibeli sebagai buah tangan wisatawan yang ke Bandung," tuturnya.

Pedagang lain, Jajang Jaelani (36 tahun) pemilik Kios Sunda Rasa mengatakan, daya tahan peuyeum hanya 4-5 hari, setelah itu busuk. Sama seperti Basor, Jajang juga membeli peuyeum dari tempat pembuatan tapai. " Saya bisa jual lebih mahal hingga 100%. Kalau harga ecerannya dari pabrik Rp 3.000 per kg, saya jual Rp 6.000 per kg. Ini untuk menyiasati kerugian bila peuyeum busuk," katanya.

Siti Mesaroh, penjual lain mengatakan, karena peuyeum cepat busuk, dia menaruh peuyeum imitasi yang terbuat dari kayu sebagai displai, supaya dari jalan peuyeum yang dia jual kelihatan banyak.

Cara ini dilakukannya karena jika semua peuyeum dipajang terlalu lama di luar pasti akan cepat busuk. "Saya bisa menjual 4 kuintal peuyeum per pekan dengan omzet sekitar Rp 7,2 juta per bulan dengan laba bersih 20%," imbuhnya.

Kawasan karst Citatah, Rajamandala, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, yang dulu, lain dengan yang ada sekarang. Bukit-bukit kapur yang dulu tegak kokoh, kini sebagian besar sudah rata dengan tanah. Di sana terlihat bukit kapur yang botak, bopeng, dan terbelah menyisakan puing-puing kepedihan dan kekhawatiran akan datangnya bencana. “Harum madu di mawar merah. Mentari di tengah-tengah. Berbelit jalan ke gunung kapur. Antara Bandung dan Cianjur,” puisi Ramadhan K.H. dalam Priangan Si Jelita, tahun 1956 ini mungkin sudah susah kita bayangkan maknanya saat ini.
Atau, bagi siapa yang sudah pernah lihat lukisan Affandi tahun 1979 tentang “Gunung Kapur Padalarang” dan “Tagogapu Padalarang” tahun 1974, pasti akan kesulitan bila ingin mencari objek yang dilukis Affandi waktu itu. Semua sudah berubah, hampir musnah, menyisakan kenangan pedih, tinggal tunggu waktu.
Kawasan karst Citatah Rajamandala terletak di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Secara geohidrologi, sebagian besar daerahnya merupakan daerah resapan air dengan akuifer produktif sedang penyebaran luas dan kecil penyebaran setempat serta akuifer produktif setempat. Namun, akibat pemanfaatan ruang, terutama untuk pertambangan yang berlebihan yang kurang memerhatikan asas konservasi dan kelestarian lingkungan hidup, kawasan tersebut rusak dengan cepat.
Gejala rusaknya kawasan tersebut ditunjukkan oleh hilangnya beberapa mata air, kini tinggal menyisakan satu mata air di Pasir Pawon, musnahnya beberapa perbukitan kapur yang indah, terancamnya situs Gua Pawon, dan berkembangnya benih konflik sosial di masyarakat.
Perda Provinsi Jawa Barat No. 2 Tahun 2002 tentang Perlindungan Lingkungan Geologi dan Perda Provinsi Jawa Barat No. 2 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung pun tidak cukup ampuh membendung kerusakan kawasan ini. Apa ada yang salah, bagaimana dengan Perda Kabupaten Bandung No. 12 Tahun 2001 tentang Tata Ruang? Sungguh ironis kalau hal ini dibiarkan!
Memang sangat beralasan, apa yang disampaikan Gubernur Jawa Barat pada saat pelantikan Bupati Bandung Barat. Arahan Gubernur Jawa Barat waktu itu, “Bupati/Wakil Bupati yang terpilih agar memerhatikan masalah konservasi, mengingat dalam tata ruang Provinsi Jawa Barat posisi Kabupaten Bandung Barat termasuk kawasan konservasi Bandung Utara, yaitu sebagai daerah yang fungsi utamanya sebagai kawasan resapan air”. Namun, amanat Gubernur Jawa Barat tersebut bukan sebuah pekerjaan rumah yang mudah bagi kabupaten yang baru berumur 2 tahunan, dengan kondisi yang serba terbatas, baik dari segi sumber daya manusia/aparatur, anggaran maupun fasilitas kantor yang sebagian masih kontrak.
Kawasan karst
Kawasan karst Citatah — Rajamandala masuk wilayah Kecamatan Cipatat. Secara geografis, Kecamatan Cipatat merupakan pintu gerbang Kabupaten Bandung Barat dengan luas wilayah 10.320 ha berupa lahan sawah 1.794 ha dan tanah darat 8.526 ha. Berdasarkan data dari Kecamatan Cipatat, jumlah penduduk sampai Juli 2008 sebesar 114.647 jiwa, terdiri atas laki-laki 57.787 jiwa dan perempuan 56.860 jiwa, dengan mata pencaharian sebagai petani 11.274 orang, buruh tani 4.160 orang, buruh pabrik 10.036 orang, TNI/Polri 91 orang, dan PNS 412 orang. Data penduduk yang bekerja sebagai penambang memang tidak tercatat, tetapi cukup banyak (termasuk data buruh pabrik di atas), meskipun sebagian dari mereka berasal dari luar daerah.
Kecamatan Cipatat mengalami perkembangan cukup pesat karena didukung infrastruktur yang cukup memadai, lokasi wilayah yang dilalui jalan perlintasan, dekat dengan ibu kota kabupaten, serta potensi sumber daya alam yang cukup seperti tambang, pertanian, perkebunan coklat, karet, dan tanaman keras lainnya. Namun, beberapa kendala masih dihadapi, antara lain terbatasnya sarana, prasarana, sumber daya manusia/aparatur pemerintah kecamatan maupun di tingkat desa, serta masih kurangnya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan, pemerintahan, dan kemasyarakatan.
Kekayaan alam yang diusahakan di Kecamatan Cipatat antara lain pertambangan bahan galian Golongan C berjumlah 36 usaha, industri besar 15 usaha, dan industri kecil 50 usaha. Mengenai pertambangan galian Golongan C yang jumlahnya sampai 36 usaha adalah kegiatan pertambangan yang berizin bupati dan camat, meliputi jenis bahan galian marmer dengan luas 88,87 ha, pasir 40,9 ha, kapur 9 ha, andesit 1 ha, dan kuarsa 7,9 ha.
Jumlah kegiatan pertambangan tersebut belum termasuk pertambangan tanpa izin (Peti). Sedangkan industri besar yang jumlahnya 15 usaha dan industri kecil 50 usaha tidak diperoleh data terperinci, tetapi di dalamnya sudah termasuk industri pengolahan tambang kapur.
Akhir-akhir ini, industri pengolah tambang kapur mengalami perkembangan pesat. Ada cerita yang lucu terkait dengan industri tambang kapur ini, bukan anekdot, tetapi betul-betul terjadi. Cerita ini dari sumber yang terpercaya. Saat berdinas untuk yang pertama kali, Bupati Bandung Barat dibuat kaget oleh asap tebal, hitam pekat yang membubung ke langit yang terlihat dekat sekali dari kantornya. Saking penasarannya, dikira terjadi kebakaran, beliau menanyakan kepada staf/ajudannya dan dijawab kurang lebih begini, “Maaf Pak, itu bukan kebakaran, hanya asap dari industri pengolahan tambang kapur, memang dekat Pak, mungkin karena Bapak belum terbiasa.”
Di Kecamatan Cipatat terdapat objek Wisata Cipanas dan Situs Purbakala Gua Pawon. Selain itu, di wilayah ini terdapat beberapa fasilitas pemerintah dan publik, antara lain Pusdik Brigif TNI AD, Indonesia Power (Pembangkit Tenaga Listrik), Pilot Plan Pengolahan Mineral Puslitbang tekMIRA, dan TPA Sampah Sarimukti yang menampung sampah dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi.

Berdasarkan arahan pengembangan, Kecamatan Cipatat, adalah (a) potensi ke depan dapat dijadikan sentra tanaman keras dan palawija, sentra ternak sapi dan domba, serta sentra beras; (b) potensi bahan galian Golongan C perlu dibenahi dalam proses penggalian potensinya sehingga tidak merusak lingkungan yang akan merugikan untuk perkembangan selanjutnya; dan (c) dalam melayani masyarakat yang berbatasan dengan Kabupaten Cianjur memerlukan perbaikan dan peningkatan sarana pelayanan kesehatan, pendidikan maupun prasarana infrastruktur lainnya. Jadi, permasalahan pertambangan bahan galian Golongan C di kecamatan ini termasuk permasalahan yang diagendakan, memerlukan pembinaan, bimbingan, dan pengawasan dari dinas teknis yang terkait di tingkat kabupaten. ***