Jumat, 24 Februari 2012

Akhlak Mulia Kepada Sesama Muslim/Teman

nPersaudaraan atau persahabatan sesama muslim yang hakiki hanya terjadi jika dibangun di atas ridho Allah, yaitu sesama muslim mereka bersaudara, dalam kitab suci Al Qur’an dijelaskan pada surat Al Hujurat  Ayat :10. yang artinya :
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat nikmat.”
Maka bagi sesama muslim setidaknya ada 11 point yang mesti dilakukan terhadap saudaranya (sesama muslim):



1. Memberi salam apabila saling jumpa (QS Annisa:86)
Banyak dari kita masih menyapa dengan “Hai”, “Halo”, “Pagi”, padahal ini tidak ada nilai ibadahnya. Didalam Islam, salam yang bernilai ibadah (karena didalamnya ada doa) adalah Assalamualikum, dan dijawab dengan Wa alaikum salam, minimal, atau ditambahkan dengan ucapan Warahmatullahi wabarakatuh itu lebih baik. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS An Nisa ayat 86.
Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu.

2. Saling mendoakan apabila yang lain bersin
Hal ini tidak dimiliki oleh agama/ ajaran apapun hanya dalam din Islam. Hadits riwayat Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:“Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan ‘Alhamdulillah (Segala puji bagi ALLOH)’ dan saudaranya atau orang yang bersamanya mengatakan kepadanya ‘Yarhamukallah (Semoga ALLOH memberikan rahmat-Nya kepadamu)’. Jika salah seorang mengucapkan ‘Yarhamukallah’, maka orang yang bersin tersebut hendaklah menjawab ‘Yahdiikumullah wayushlih baalakum (Semoga ALLOH SWT memberikanmu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).”

3. Tawadhu. tidak sombong terhadap saudaranya
Seorang muslim tidak boleh sombong terhadap saudaranya, karena sombong adalah pakaian kebesaran Allah. Sebaliknya seorang muslim harus tawadhu, rendah hati dan kasih sayang sesama manusia apalagi sesama muslim.
‘janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. “(QS Lukman:18)

4. Lemah lembut dan kasih sayang 
Lemah lembut dan kasih sayang adalah ciri umat Rasulullah, tercermin didalam surat Al Fath ayat 29
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS Al Fath:29)

5. Tidak mendiamkannya lebih dari 3 hari
Seorang muslim tidak boleh memendam dendam, apalagi mendiamkan saudaranya labih dari 3 hari. Hindari kata2 “Tiada maaf bagi mu”, hendaknya seorang muslim saling memaafkan.

6. Memberi nasihat apabila diminta
“Apabila salah seorang dimintai nasehat saudaranya maka berilah ia nasehat” Muttafaqun Alaih.
Surat An Nahl:125, mengajarkan kita untuk menyeru dengan hikmah, dan mendebat dangan cara yang baik.
“Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmah kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik; sesungguhnya Tuhanmu Dialah jua yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalanNya, dan Dialah jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat hidayah petunjuk.” (Al-Nahl: 125)

7. Besemangat dalam tolong menolong dan beramar ma’ruf nahi mungkar 
Tolong menolong tidak membedakan suku, bangsa, warna kulit, tetapi dengan satu kesatuan Akidah.
..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa , dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. .” (QS.Al-Maidah:2)

8. Menutupi aib saudaranya
Aib disini adalah aib individual, bukan aib yang bersifat umum. Siapa saja yang menutupi aib saudaranya di dunia maka Allah akan menutupi aibnya di akhirat.
Suatu ketika seorang lelaki menemui Umar bin Khattab Radiallahu Anhu. Maksudnya menyampaikan satu berita dengan harapan ia mendapat pujian dari Khalifah kedua ini. Dihadapan Umar ia berkata: “Wahai Amirul Mukminin, saya melihat si Fulan dengan si Fulanah berpelukan di balik pohon kurma.” Lalu bagaimana reaksi Umar? Lelaki ini malah dijambak jubahnya oleh Umar. Beliau sambil mengacungkan cambuk kepadanya seraya
berkata: “Kenapa tidak kamu tutupi kesalahannya dan harapkan kesadaran serta taubat mereka? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam telah mengatakan, ‘Barangsiapa menutupi aib atau kesalahan saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia maupun akhirat.”
 (Al Hadis).

9. Tidak su’udhon/ berburuk sangka 
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al Hujurat:12)

10. Berkata-kata yang baik dan saling memaafkan 
Kata-kata yang baik adalah sedekah. Hendaknya apabila pembicaraan sudah tidak lagi bernilai, maka lebih baik diam. Seorang muslim harus membuka lebar2 pintu maaf, Putusnya silaturahim adalah salah satu sebab terbukanya pintu su’ul kothimah. (QS Al Maidah:13)

11. Menjenguk dan mendoakan apabila saudaranya sakit, menghadiri undangannya, serta menyelenggarakan jenazahnya (memandikan, mengkafani, mensholatkan, menguburkan, dan mendoakannya).
Berikan dorongan spirit, 2 kebaikan ketika kita menjenguk orang sakit, Allahuma anta bari..semoga Allah mengangkat penyakitnya dan disembuhkan, dan apabila saudara kita yang sakit sabar, Allah akan menjadikan penyakitnya pintu penghapus dosanya. Dan sebaiknya kita belajar tentang Fiqh Jenazah, sehingga apabila ada diantara saudara/ keluarga kita yang meninggal kita dapat dengan segera menyelenggarakan jenazahnya.

Baca juga adab muslim kepada muslim lainCara melihat karakter orang dari tanda tanganCara Melihat sifat orang dari tulisan tangan

sumber : http://sosbud.kompasiana.com

Akhlak dan Adab Seorang Mukmin Kepada Sesama Mukmin

Dari Abu Hurairah radhiyallaHu 'anHu, Rasulullah ShallallaHu 'alaiHi wa sallam bersabda,
"Haqqul muslimi 'alal muslimi khamsun, raddus salaami, wa 'iyaadatul
mariidhi, wat tibaa-ul janaa-izi, wa ijaabatud da'wati, wa tasymiitul
'aathisi"

yang Ertinya,

"Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima, menjawab salam, menjenguk
orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan menjawab orang bersin"

(HR. al Bukhari dan Muslim, hadits no. 900 pada Tarjamah Riyadush Shalihin) 



Menjawab Salam
Salah satu jawaban salam yang baik adalah sebagaimana hadits berikut, dari
Aisyah radhiyallaHu 'anHa, dia berkata,

"Rasulullah berkata kepadaku, 'Ini jibril datang membacakan salam kepadamu',
Aku berkata, 'Wa 'alaykumus salaamu warahmatullaHi wabarakatuH'" (HR. al
Bukhari dan Muslim, hadits no. 856 pada Tarjamah Riyadush Shalihin)


Menjenguk Orang Sakit
Hendaknya dalam mengunjungi orang sakit diiringi dengan niat ikhlas dan
tujuan yang baik.  Seperti misalnya yang dikunjunginya adalah seorang ulama
atau teman yang shalih, atau mengunjunginya dalam rangka untuk beramar
ma'ruf nahi munkar yang dilakukan dengan lemah lembut atau dengan tujuan
untuk memenuhi hajatnya atau untuk melunasi hutangnya, atau untuk mengetahui
tentang keadaannya.  Sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu 'alaiHi wa
sallam,

"Barangsiapa mengunjungi saudaranya karena Allah atau di jalan Allah, akan
ada yang menyeru kepadanya, 'Engkau telah berlaku mulia dan mulia pula
langkahmu, serta akan kau tempati rumah di Surga'"

(HR. at Tirmidzi no. 2008, Ibnu Majah no. 1433)

Dari Ibnu Abbas radhiyallaHu 'anHu, berkata

"Apabila Nabi ShallallaHu 'alaiHi wa sallam mengunjungi orang sakit, beliau
berkata, 'Laa ba'sa thaHuurun insyaa Allah (Tidak mengapa semoga sakitmu ini
membuat dosamu bersih)'"
 (HR. al Bukhari no. 5656)

Menghantar Jenazah
Memikul jenazah dan mengiringinya termasuk hak-hak mayit atas kaum muslimin.
Para ulama bersepakat bahwa memikul jenazah adalah farhu kifayah.  Jika
telah dilakukan oleh sebagian orang, maka gugurlah kewajiban tersebut dari
sebagian yang lainnya.

Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim berkata, "Jika ijma' tersebut
terbukti, maka itulah yang benar.  Jika tidak ada, maka tidak ada bedanya
antara hukum memikul dan mengiringi jenazah.  Zhahirnya bahwa keduanya
adalah fardhu kifayah.  WallaHu a'lam"
(Shahih Fiqih Sunnah Jilid 2, hal. 391)

Memenuhi Undangan
Berkaitan dengan hukum menghadiri undangan, Imam al Bukhari meriwayatkan
dalam Shahih-nya (no. 5177), dari Abu Hurairah radhiyallaHu 'anHu, bahwa ia
mengatakan,

"Seburuk-buruknya makanan adalah makanan walimah, hanya orang-orang kaya
saja yang diundang, sedang orang-orang fakir tidak diundang.  Barangsiapa
yang tidak memenuhi undangan, maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan
Rasul-Nya"

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Ini adalah dalil wajibnya memenuhi undangan"
(Fathul Baari IX/245).


Menjawab Orang Bersin
Wajib bagi setiap orang yang mendengar bersin (dan mengucapkan
alhamdulillaH) untuk mengucapkan tasymit kepadanya.  Rasulullah ShallallaHu
'alaiHi wa sallam bersabda,

"Jika salah seorang dari kalian bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, maka
hendaklah kalian mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallaH) baginya, namun
jika tidak, maka janganlah mengucapkan tasymit baginya"

(HR. Muslim no.2992)
Maraji' :

1.     Adab Harian Muslim Teladan, 'Abdul bin 'Abdirrahman as Suhaibani,
    Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Dzul Hijjah 1425 H/Januari 2005 M.

2.     Panduan Lengkap Nikah, Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin 'Abdir Razzaq,
    Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Keempat, Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006 M.

3.     Shahih Fiqih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin as Sayyid Salim,
    Putaka at Tazkia, Jakarta, Cetakan Pertama, Rajab 1427 H/Agustus 2006 M.

4.      Tarjamah Riyadush Shalihin Jilid 2, Imam an Nawawi, Takhrij : Syaikh
    al Albani, Duta Ilmu, Surabaya, Cetakan Kedua, Oktober 2004, Edisi Revisi.

Semoga Bermanfaat.

Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang
dikehendaki-Nya.  Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah
berbuat dosa yang besar" (QS. An Nisaa' : 48)


Baca juga tentang Akhlak sesama muslim, Cara melihat karakter orang dari tanda tangan, Cara Melihat sifat orang dari tulisan tangan
sumber : http://halaqah.net

Kamis, 23 Februari 2012

Sedikit Berbagi Cara Belajar Membaca Al-Qur'an

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Disini kami berbagi sedikit ilmu tentang cara belajar membaca alquran dengan benar dan cepat. Berikut sedikit uraian singkat dari saya mengenai bagaimana cara agar kita bisa membaca alquran dengan benar. Ada 5 hal penting yang harus diperhatikan agar bisa membaca alquran dengan baik dan fasih.
  1. pertama-tama kita harus bisa membaca huruf hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf. Sama seperti jika kita hendak belajar membaca bahasa indonesia. jika kita mengetahui dan bisa membaca 28 huruf hijaiyyah dengan benar, hal ini merupakan modal utama kita untuk bisa membaca alqur’an, karena isi alquran adalah bacaan yang didalamnya tersusun dari 28 huruf hijaiyyah.
  2. setelah faham dan mampu membaca huruf hijaiyyah dengan fasih, tahapan selanjutnya adalah mempelajari tanda baca, yaitu, fathah, kasrah, dan dhommah. Sama seperti belajar berbahasa indonesia, tiga tanda baca yang disebutkan tadi mirip halnya dengan huruf vokal yang ada di bahasa indonesia.
  3. menguasai atau paling tidak mengetahui mengenai isyarat baca di dalam alquran. didalam tata cara membaca alquran ada banyak isyarat tanda baca, seperti, Mad Arid Lissukun, Mad Wajib Muttasil, dll. Isyarat baca ini memang tidak sering muncul di dalam alquran, frekuensi kemunculannya sedikit, namun hal ini penting diperhatikan dan dipelajari karena jika tidak kita belum bisa dikatakan fasih membaca alquran kalau tidak memperhatikan isyarat baca ini.
  4. yang ke-4 adalah mengetahui dan menguasai teknik membaca alquran, seperti Idgham, Qalqolah, dll. Idgham adalah teknik membaca dengung, seperti halnya jika ada huruf hijaiyyah “nun” mati bertemu dengan “Mim”. Jika kita menemukan kalimat ini maka teknik membacanya harus dengung, dapat juga dikatakan Idgham Bighunnah.
  5. Tips terakhir adalah “praktek”. Seseorang tidak akan bisa membaca alquran dengan fasih jika tidak pernah mempraktekkannya. Bacalah Alquran secara rutin, sebelum waktu masuk subuh atau setelah maghrib adalah waktu yang bagus untuk membaca alquran. Perlu diingat, jika kita masih belum fasih dalam membaca alquran, ada baiknya jika ada yang membimbing anda selama kita membaca alquran, agar jika ada kesalahan baca pendamping anda bisa membetulkan dan kita bisa langsung memperbaiki kesalahannya.
Itulah sedikit Tips bagaimana cara belajar membaca alquran dengan benar dan cepat dari saya. Semoga sedikit banyaknya tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Ciri Al Qur'an Mushaf Utsmani

Bagi kita yang ingin membeli Al Qur'an yang Mushaf Utsmani bisa memilih yang asli dengan 9 ciri-cir sebagai berikut, yaitu:

1. Terdiri dari 484 halaman, dari halaman 2 sampai dengan halaman 485
2. Setiap juz dimulai pada awal halaman ganjil, kecuali Juz 1 yang dimulai dari halaman 2
3. Setiap juz terdiri dari 16 halaman, kecuali juz 1 dan juz 30 yang masing-masing berisi 15 dan 21 halaman
4. Setiap halaman hanya berisi 18 baris, ayat dan non ayat, kecuali halaman 2, 3, dan 485 yang masing-masing berisi 7, 7, dan 10 baris, ayat dan non ayat.
5. Setiap halaman diawali dengan permulaan ayat dan diakhiri dengan akhir ayat, kecuali halaman 484, ayat ke-4 Surat al lahab terpotong dan bersambung dengan awal halaman 485.


Selintas mengenal Sejarah Al-Quran, bacaan (Tahsin), Mushab dan Ilmu Nahwu Shorof

Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamualaikum,
Pada beberapa kali pertemuan di pengajian Nahwu Shorof, seringkali saya menanyakan hal-hal yg bersifat prinsipal tentang ayat-ayat Al-Quran, sejarahnya dan bagaimana cara mempelajarinya dan bagaimana cara melafadzkannua. Bukannya dulu tidak menyimak sewaktu diajarkan di sekolah, tapi ada beberapa hal yg saya ingin lebih memahami prinsip-prinsip dasarnya, untuk menambah pengetahuan saya dan memperkuat keimanan.

Pak Ustads menjawabnya dengan menerangkan sejarahnya dengan ringkas sebagai berikut:
Seperti yg sudah umum kita ketahui, ayat-ayat yg turun tidaklah sekaligus, tapi berangsur-angsur dan disesuaikan dengan kondisi dan masalah yang dialami oleh Rasul dan umat muslim saat itu.



Pada dasarnya ayat-ayat Al-Quran berbentuk lafadz-lafadz (suara)
Ayat-ayat yg turun dari Malaikat Jibril ke ke Rasul, kemudian secara Talaqi (berhadap-hadapan) dibacakan dari Rasul ke para Sahabat. Para sahabat menghafalkannya dan sebagian ada juga yg menulisnya, seperti Zaid bin Tsabit.
Sahabat Nabi yg bernama Zaid bin Tsabit ini dikenal juga sebagai sekretaris rasul, pemimpin penghimpunan ayat2 al-quran, cerdas, penghafal quran, dan mempunyai kemampuan belajar bahasa asing dengan cepat, mampu menulis dengan indah dan membaca bahasa arab dengan lancar, juga mengetahui dan mempelajari beberapa bahasa-bahasa lain seperti bahasa ibrani, bahasa suryani, dengan cepat, beliau lebih muda kira-kira 10 tahun dari Ali bin Abi Thalib.

Rasul mengetahui penulisan ini, dan tidak melarangnya. Dan malah di bbrp riwayat kelak setelah berlangsung lamanya masa menyebarkan ke-islaman, nabi juga banyak mempercayakan Zaid bin Tsabit utk menuliskan wahyu yg setiap kali turun ke Rasul. Rasul mendiktekan, meminta Zaid utk menuliskannya, dan beberapa riwayat mengatakan juga mengkoreksi tulisan yg didiktekan tersebut. Contohnya dapat kita lihat tentang penulisan "abidu" dan "aabidu" di surat Al-Kafirun. Di surat ini banyak rasm-rasm yg berbeda dengan kaidah Nahwu Shorof. Dan sebagian para Ulama mentafsirkan nya dengan penjelasan yg dalam.

Ulasan:
Ada riwayat sewaktu ayat pertama turun di gua Hira, secara umum kita mengetahui bahwa Nabi tidak bisa membaca, apalagi menulis. Tetapi ternyata setelah mendapat penjelasan dari pak ustadz, ketidak mampuan baca dan menulis ini bukanlah seperti yg selama ini saya bayangkan. Dari sejarah Rasul diwaktu muda, beliau sudah menjalankan perdagangan ke negeri Syam. Secara logika, setidaknya rasul mengerti paling tidak sedikit ilmu-ilmu dasar perdagangan, atau paling tidak dapat membaca dan menulis setidaknya untuk keperluan administrasi yg sangat sederhana untuk menjalankan perdagangan. Kemampuan menulis ditahap awal ini dapat dikatakan sangat sederhana, seperti menggambarkan beberapa lafadz-lafadz huruf dasar atau hanya menggambar/menulis bentuk kata sederhana (morfologi fonem).

Mungkin bisa dibayangkan kemampuan awal dalam hal baca dan tulis pada diri rasul pada tahap awal turunnya wahyu pertama sangatlah minim dan dengan bahasa kita mungkin dapat disebutkan membaca dengan terbata-bata atau hanya bisa dengan kata-kata yg sangat sederhana, TAPI bukan untuk membaca atau menulis tulisan tulisan yang indah dan rumit yg mempunyai unsur sastra.

Maka, dapat dipahami secara logika bahwa di peristiwa di gua Hira, pada saat turunnya wahyu pertama Rasul mengatakan tidak bisa membaca, dan juga bisa diartikan tidak tahu apa yg dibaca.
Cap yg menempel sebagai orang yg tidak bisa membaca (Ummi) yg ditempelkan pada diri Rasul mungkin lebih tepat disebabkan beliau bukan dari golongan orang yg terdidik karena mempunyai kemampuan baca tulis yg minim (dengan ter ba ta), atau bahasa gaulnya bukan dari kalangan anak sekolahan yang mengetahui ilmu-ilmu baca dan tulis indah, sempurna dan lancar. Ummi disini bisa juga di pahami bahwa pada saat turunnya wahyu pertama rasul belum mempunyai pengetahuan yang banyak, dan berikutnya setelah ayat-ayat quran turun mengajarkan beliau tentang banyak ilmu pengetahuan.

Apakah sepanjang hidup rasul tidak bisa membaca dan menulis, atau tetap menjadi ummi seterusnya?? Secara logika, kemampuan awal seseorang tidak mungkin tidak berkembang. Dan rasul juga mempunyai sifat yang namanya fathanah yaitu cerdas. Apalagi banyak sumber-sumber di Quran yang menjelaskan bahwa pengetahuan itu diajarkan ke rasul melalui ayat-ayat Al-Quran. Sifat fathanah yang cerdas ada di diri rasul, dari seorang ummi yang tidak tahu banyak pengetahuan menjadi seorang yang mempunyai ilmu yang banyak setelah diajarkan melalui ayat-ayat suci al-quran.
Telah disebutkan bahwa Rasul juga mempunyai sekretaris seperti Zaid bin Tsabit. Brrp riwayat menyatakan saat rasul meminta zaid utk menuliskan wahyu yang turun kepadanya. Setidaknya ada kemampuan tambah pada diri rasul sendiri, seperti meminta dituliskan tetap seperti ini atau seperti itu. meskipun beliau masih dikategorikan tetap tidak bisa membaca dan menulis, jelas disitu rasul sudah mulai mengenal bentuk-bentuk penulisan kata. 


Masih di tahap-tahap awal setelah turunnya wahyu pertama, menurut jejak sejarah, para sahabat yg menerima ayat-ayat indah ini, ter kejut, ter-Ta'jub dan ter kagum karena tidak mungkin ayat-ayat ini karangan Muhammad yg mereka fahami bahwa beliau bukan dari kalangan terdidik, yang tidak mengetahui sebelumnya adanya kitab-kitab lain, dan tidak bisa menulis membaca apalagi ber-syair. Yang kontra dan bereaksi negatif juga banyak, terutama dari para kafir Quraish saat itu, malah mengatakan Rasul adalah tukang sihir dan macam-macam lagi. Ini disebabkan karena hal-hal yg tidak mungkin yg bisa keluar dari seseorang seperti Muhammad yg mereka ketahui ia dari golongan yang "Ummi" (golongan orang yg tidak bisa membaca dan menulis, apalagi mengeluarkan syair-syair sastra yg indah).
Setelah beberapa waktu dalam masa awal islam, setelah banyak ayat ayat turun, akhirnya banyak para quraish yg dulunya kafir akhirnya melihat hal ini sebagai sesuatu yang benar. Mungkin masih ingat kisahnya Umar Bin Khatab, yang tertegun setelah mendengar ayat quran surat TA-HA


Indikasi sudah ada nya Ilmu Nahwu Shorof di zaman Rasul dan Sahabat 
Jika kita cermati lagi, kenapa para sahabat dan orang-orang Arab Quraish saat itu mengerti bahwa ayat-ayat itu luar biasa indah, tentulah bisa kita pahami, mereka juga memahami ilmu kesusastraan yg berbasis nahwu-shorof, sebagai ilmu grammar dan tata bahasa arab dan juga sebagai dasar ilmu kesusastraan.
Jadi dapat disimpulkan, bahwa Ilmu Nahwu Shorof, sudah ada pada bangsa Arab pada saat zaman Rasul.
Adapun penyusunan Ilmu Nahwu Shorof, populer muncul setelah zaman Rasul. Hal itu disebabkan karena telah meluasnya islam ke berbagai bangsa. Dan para Ulama-ulama, menuliskan kembali kaidah ini karena dianggap sangat penting utk memahami utk membaca quran dan hadist.


Cara membaca (TAHSIN), dilakukan secara Talaqi (berhadap-hadapan) dan Mutawatir (turun temurun)
Kembali ke riwayat turunnya Al-Quran tersebut, diantara para sahabat, setelah mendengarkan secara Taliqi ayat-ayat tersebut dr rasul. Ada yg membaca berbeda disebabkan karena pengucapan dan lidahnya. Maaf, saya lupa nama sahabat tsb, seperti pengucapan lafadz Alif Lam Miiim , menjadi Alif Lam Mree, dengan munculnya lafadz "re" dalam lafadz Miim.
Rasul memahami pengucapan lafadz yg berbeda disebabkan pengucapan lidah yg berbeda diantara para sahabat. Jika tidak salah ada bbrp sumber rujukan utk cara pembacaan ini, (maaf saya lupa ada bbrp nash ttg cara membaca ini, seperti nya ada 7 macam, nanti saya konfirmasi lagi ke pak ustadz). Cara membaca ayat-ayat Quran inilah yang disebut sebagai TAHSIN.
Jadi dapat dipahami ilmu TAHSIN ini diturunkan secara turun temurun (mutawatir), dari para Hafidz-Hafidz Al-Quran dijaman rasul dan sahabat ke para imam-imam di zaman tabiin dan berikutnya tabiut , hingga sampai ke zaman sekarang. Beberapa Imam-Imam Masjidil Haram seperti Abdurrahman As-Sudaish dan Shuraim disebutkan mengikuti satu nash Tahsin yang sama.

Mengenai penyusunan redaksi Al-Quran, dan penyusunan suatu ayat masuk ke suatu Surah
Diceritakan oleh p Ustadz, masih dizaman rasul, disetiap tahun di adakan Nuzulul Quran, bacaan rasul juga di ulangi dan di koreksi oleh Malaikat Jibril, berikut juga penyusunan ayat-ayat yang turunnya tersebar-sebar tersebut. Nabi menyampaikan hal ini ke para sahabat, dan memerintahkan agar ayat B dimasukkan ke surat A, ayat C dimasukkan ke surat D, dan seterusnya.
Pada setiap tahun Nuzulul Quran ini juga, bacaan nabi dan para sahabat juga di koreksi dan dibetulkan secara taliqi agar mengikuti Tahsin yg benar, dan tentunya membaca ayat-ayat yg telah tersusun dlm suatu surah.


Mengenai Mushab Al-Quran, dan Meluasnya daerah Islam dengan banyak suku bangsa

Jika membaca sejarah, sudah umum dikatakan bahwa tulisan-tulisan Al-Quran mulai di kumpulkan dimulai sejak zaman Khalifah Abu Bakar. Ini disebabkan banyaknya para sahabat dan sekaligus hafidz-hafidz Al-Quran yg syahid di pertempuran. Upaya ini dilanjutkan oleh Khalifah Umar bin Khattab, dan akhirnya di Zaman Khalifah Usman Ibn Affan, berhasil dikumpulkan menjadi suatu Mushab, yang disebut Mushab Usmani.

Diceritakan juga, bahwa ada beberapa perbedaan dan pertentangan pendapat sewaktu penyusunan Mushab ini, karena dikhawatirkan umat muslim tidak akan menghafalnya (hafidz) seperti yg banyak dilakukan oleh para sahabat di jaman rasul, dan kenyataan ini terbukti, sekarang sangat sedikit jumlahnya para penghafal-penghafal quran.

Mushab Qur'an Usmani ini, tidak mempunya tanda baca, dan juga tidak mempunyai titik. Bagi orang yg bukan dari arab, mungkin akan kesulitan membedakan mana huruf ba, ta, fa dan qof

Meluasnya daerah Islam, menyebabkan banyak bangsa-bangsa memeluk agama ini, bukan hanya orang arab saja. Mushab quran Ustmani menjadi terlalu sulit utk dibaca. Akhirnya, teks-teks Al-Quran mulailah di berikan tanda-tanda penjelas, seperti titik-titik, dan kemudian tanda-tanda baca seperti fathah, dhummah, kastroh, dll

Persoalan tidak hanya itu, cara membaca dan melafadzkan pada umat yg sudah majemuk ini akhirnya berbeda, disebabkan karena dialek (pronounciation) pada setiap bangsa. Beberapa referensi dianjurkan oleh ulama dizaman ini, yaitu membaca Quran harus mengikuti lidahnya orang Quraish (saya lupa referense ini, nanti ditanyakan kembali ke pak ustadz)

Hampir sezaman dengan ini, mulailah banyak muncul ulama-ulama yang menyusun ulang kaidah kaidah ilmu Nahwu Shorof yang digunakan untuk mempelajar Al-Quran dan Al-Hadist.

Al-Quran yg kita baca sekarang, adalah terbitan dari Department Agama, dan masih berdasarkan Mushab Usmani, dan sudah diberi tanda baca. Jika diperhatikan agak berbeda dengan terbitan dari Timur Tengah yang ada tanda-tanda khusus seperti tanda kepala shad diatas alif (bisa dibaca fathah, dummah ataupun kastroh)


Al-Quran dan Ilmu grammar Nahwu Shorof

Al-Quran adalah mujizat yg diturunkan dalam bahasa arab, sedangkan ilmu nahwu shorof hanyalah grammar tata bahasa orang arab kuno. Tanpa Ilmu Nahwu Shorof, tidaklah mungkin bisa memahami Al-Quran. 

Simak pertanyaan dengan logika sederhana berikut: 
1) Andaikata jika seseorang katakanlah sudah memahami Al-Quran, apakah ia dapat dikatakan memahami Ilmu Nahwu Shorof (ataupun ilmu2 lanjutannya) ? Jawabnya: Ya
pertanyaan kebalikannya:
2) Andaikan jika seseorang katakanlah sudah memahami Ilmu Nahwu Shorof ataupun Ilmu2 diatas nya (seperti Ilmu Balaghah, Ma'ani, Arut, dll) dapat dikatakan memahami Al-Quran? Jawabnya: belum tentu

Jelas, dari hubungan diatas, diantara Al-Quran dan Ilmu Nahwu Shorof (ataupun Ilmu2 lanjutannya) tidaklah setara. Ilmu Nahwu Shorof digunakan manusia utk memahami Al-Quran. Tetapi Al-Quran digunakan bukan utk mengikuti kaidahi Ilmu Nahwu Shorof ataupun Ilmu-Ilmu lain nya

Ilmu-ilmu manusia adalah terbatas, sementara Ilmu Allah yang sebagian kecil ter sirat di Al-Quran tidak lah terbatas. 

Analogi sederhana yang lain: 
Ibarat seorang sastrawan membuat puisi, apakah dalam pusinya dia harus tunduk pada kaidah bahasa??? tentu tidak ..

Apalagi Al-Quran, merupakan wahyu Allah yg diturunkan melalui Jibril, meskipun diturunkan dalam bahasa arab, apakah dia harus tunduk pada kaidah grammar (Nahwu Shorof) orang arab kuno????? Ya, tentu tidak ..
Contohnya: Alif Lam Miimm ... kaidah nahwu shorof yg mana yg mampu menjelaskan ini????

Tidak tunduknya ayat qur'an terhadap kaidah grammar, dipahami para Rasul, Sahabat, dan Ulama sebagai Mukjizat Al-Quran tersebut, karena mungkin ada pengetahuan yg ada didalamnya. Apalagi ayat-ayat yg bersifat Mutasyabihat, mungkin hanya para Ulil Albab (Ahli-Ahli) yg bisa menjelaskannya. Wallahu Alam. 
Ayat2 mutasyabihat tidak bisa ditafsirkan dengan biasa, walaupun sudah menguasai ilmu-ilmu diatas nahwu shorof (seperti balaghah, dll). Di Quran disebutkan, sebagian dari kamu menggunakan ayat2 mutasyabihat itu utk menimbulkan fitnah, padahal tidak ada yg mengetahui artinya kecuali Allah dan orang-orang yg Ulil Albab (orang-orang yg ditunjuki/ orang-orang Ahli)
Dan sangat jelas diceritakan di suatu ayat Al-Quran tatkala orang-orang mu'min ditanyakan apakah artinya, mereka menjawab, itu semuanya dari Tuhan kami.


Akhir Kata
Begitulah selintas mengenai sejarah Al-Quran hingga sampai sekarang. Akhir kata, Semoga bermanfaat! Paling tidak dapat menangkis bbrp argumen-argumen dari kaum liberal/pluralisme/faith freedom dan kelompok-kelompoknya yg marak timbul belakangan ini yg berani mengkritisi al-quran dng kaidah ilmu nahwu shorof yg dipelajarinya tapi dengan hati yang tertutup, menggunakan akal dan pikirannya utk mengingkari. Kalau kita bisa bandingkan, apa bedanya mereka dengan orang-orang di kafir quraish saat itu. Orang kafir Quraish saat itu juga tahu ilmu nahwu shorof, mereka mengerti ayat-ayat itu luar biasa, kalau tidak mana mungkin ada reaksi dari mereka, tapi hati mereka tertutup, yang ada hanya ke-ingkaran. Bisa kah mereka menjelaskan jejak sejarah, saat Umar bin Khattab yang awalnya marah karena mengetahui adiknya sudah masuk islam, akhirnya tertegun setelah mendengar ayat suci Al-Quran, Surat Ta-Ha. Itulah hidayah, hati yang terbuka. Berlinang air di mata mendengar lantunannya.

Padahal jika mereka berpikir, di zaman nabi saja orang arab Quraish saja sudah tahu ilmu nahwu shorof, dan mereka terkejut tatkala mendengar lantunan ayat-ayat suci al-quran. Jelas ini bukan ayat biasa yg keluar dari mulut nya rasul yang dikategorikan ummi.

Selain itu juga, Kitab Suci agama manakah yang bisa dihafal??? Hanya Al-Quran. Kitab Suci Agama Islam.
Coba cek kitab suci agama lain, kalau bisa hafal hebat dah!
Adanya para hafidz-hafidz (penghafal-penghafal quran) ini telah mementahkan pendapat para sarjana barat ataupun kaum faith freedom/liberal bahwa Al-Quran telah berubah pada suatu zaman. Anggapan mereka tertolak mentah-mentah, karena mereka tidak tahu bahwa dalam sejarah Islam terbukti bahwa kitab suci Al-Quran yang tebalnya seperti itu bisa dihafal luar kepala dan dilakukan turun temurun (mutawatir), dan banyak penghafal nya. Inilah yg mereka tidak mampu mematahkannya.

Mari kita perbanyak penghafal-penghafal Al-quran. Karena hanya ini kitab suci kalamullah yg masih ada dan terjaga sampai saat ini melalui perantara ulama dan hafidz hafidz quran. Menghafal Al-Quran bukan suatu yang mustahil karena Allah sendiri menjaminnya bahwa kita tidak akan lupa, dan sudah dibuktikan di zaman sahabat, tabiin, tabiut, hingga sampai saat ini. 
Banyak yg berbeda antara zaman kita dan zaman rasul dan sahabat. Di zaman itu banyak para sahabat yang hafidz al-quran, sehingga al-quran itu dibaca tampa teks. Dizaman kita hanya tinggal sedikit penghafal al-quran. Apakah ini tanda bahwa al-quran akan lenyap dikarenakan tidak banyak penghafalnya??? Semoga tidak terjadi utk zaman ini. Amin..


Disampaikan Ustadz Munawir, pada bbrp pertemuan di pengajian Nahwu Shorof, dirangkum oleh el-suhairi

Senin, 30 Januari 2012

Refresing ke Pantai KLARA

Hari minggu pada tanggal 18 Desember 2011 kami serombongan dari FIK UBL mempunyai hajad untuk refreshing ke pantai klara bersama-sama. kami di suruh panitia berkumpul jam 7:00 WIB, tapi saya bandel kumpul jam 8, eh ternyata banyak yang belum dateng juga.

saya dan teman teman pun menunggu lagi, ada juga yang menunggu dari jam 7 sampai jam 9:30 kami beranjak berangkat. diperjalanan pas saya duduk dengan ade yang terlihat loyo mau muntah.. karena gak tahan dengan kondisi kendaraan mungkin.. hehe...
tapi alhamdullah gak jadi muntah dan sampai juga ke tempat tujuan PANTAI KLARA. 


Pantai yang baru kali pertama saya kunjungi ini, sangat bagus dan indah sekali. karena obak laut yang bersahabat dan pemandangan bukitnya yang sangat bagus.
disana kami ada acara lomba-lomba, yang di adakan oleh pengurus BEM FIK UBL dan kami pun happy fun mengikutinya. 
setelah selesai lomba kami pun mandi bersama sama di laut bebas.. saya yang sudah lama tidak mandi di laut ikut juga mandi di laut, asyik...
aku pengen blajar renang tapi belum bisa bisa..

Senin, 12 Desember 2011

Kisah Perjalanan Ke Kediri

Hari kamis malam jum'at, tepatnya tanggal 30 malam 1 desember 2011, saya pulang dari kampus magrib kebetulan pada sore itu mendung tebal dan hujan lebat, sehabis sholat magrib alhamdulillah sudah reda agak grimis grimis dikit.. dan kami pun beranjak pulang ke kampung, dengan kondisi badan lelah dan mata serasa berat.

kami pulang dengan mengendarai sepada motor, pada malam itu jam 8 kami pulang,, setalah beberapa kilometer kami berjalan kami mendapat musibah sehingga kami melanjutkan perjalanan muter sampai ke gotong royong.,
itu adalah pengalaman dan tidak pengen terjadi lagi.., ups.. rahasia.. kami menjelajahi pedesaan dan bulak bulak. kami tidak merasa takut, kami pasrah sama yang di atas.



Perjalanan kami sangat lama sekali, yang tadinya hanya 1,5 jam perjalanan sampai tujuan, nih sampai ada 2 jam sampai di rumah.

Setelah keesokan harinya, saya bersiap siap, menyiapkan apa yang harus saya bawa, dan saya sebelumnya sambatan di pondok, dan sekitar setengah 11 saya pulang mandi dan kembali lagi ke rumah ustadz untuk menunggu mobil jemputan yang membawa kami sampai ke jawa timur.

dan setelah sekian lama kami menunggu, ashar kami mobil sudah datang dan kami berangkat.. eh,,, gak taunya masih muter-muter banyak yang belum di jemput.
sampai sampai kami berangkat ke kediri sekitar jam 9 dan berangkat dari jabung.. gak nyambung ya..

tapi di perjalanan sangat asyik walaupun mobilnya sangat sempit. dan kami nyape di pondok ploso mojo kediri sekitar jam 11 malam. dan kami lekas mencari kantin karena dari siang kami belum makan.
kami lanjutkan nanti ya..
Hehe..