Tampilkan postingan dengan label Makalah Karya Tulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah Karya Tulis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2015

100 JUDUL PENELITIAN ILMIAH - PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) LENGKAP Bag I

Aplikasi Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Asesmen Autentik untuk Meningkatkan Pembelajaran PSKn Kelas IV di SDI Sabilillah Malang

Aplikasi Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Asesmen Autentik untuk Meningkatkan Pembelajaran PSKn Kelas IV di SDI Sabilillah Malang

Bruner untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa SD Karunadipa Palu terhadap Konsep Keliling dan Luas Daerah Bangun Datar

Bruner untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa SD Karunadipa Palu terhadap Konsep Keliling dan Luas Daerah Bangun Datar

Dengan Melalui Simulasi Permainan Dadu Yang Unik Akan Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Di SMP

Dengan Melalui Simulasi Permainan Dadu Yang Unik Akan Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Di SMP

Dramatisasi Cerita Bergambar untuk Mengembangkan Kompetensi Dasar Berekspresi Sastra di Sekolah Dasar

Dramatisasi Cerita Bergambar untuk Mengembangkan Kompetensi Dasar Berekspresi Sastra di Sekolah Dasar

Efektivitas Model Pembelajaran Rogers dalam Mengatasi Kesulitas Siswa Memahami Konsep Matematika Pokok Bahasan Bentuk Pangkat, Akar dan Logaristma di Kelas X Madrasah Aliyah Pesri Kendari

Efektivitas Pembelajaran Kimia Kelas X Semester I SMA Swadhipa Natar melalui Penerapan Metode Eksperimen Berwawasan Lingkungan

Efektivitas Pembelajaran Kimia Kelas X Semester I SMA Swadhipa Natar melalui Penerapan Metode Eksperimen Berwawasan Lingkungan
Efektivitas Model Pembelajaran Rogers dalam Mengatasi Kesulitas Siswa Memahami Konsep Matematika Pokok Bahasan Bentuk Pangkat, Akar dan Logaristma di Kelas X Madrasah Aliyah Pesri Kendari

Efektivitas Pendekatan Cooperative Learning dalam Meningkatkan Hasil IPA di SDN 62 Pare-Pare


Efektivitas Pendekatan Cooperative Learning dalam Meningkatkan Hasil IPA di SDN 62 Pare-Pare


Efektivitas Problem Solving dengan Memanfaatkan Alat Peraga dalam Pembelajaran Geometri di Kelas VIII B SMP Negeri 2 Demak Tahun 2006

Efektivitas Problem Solving dengan Memanfaatkan Alat Peraga dalam Pembelajaran Geometri di Kelas VIII B SMP Negeri 2 Demak Tahun 2006

Gabungan Metode Ceramah Dengan Metode Kerja Kolompok Terhadap Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Sekolah Dasar…. Tahun Pelajaran 2010/2011


Implementasi Konseling Perkembangan dalam Pembelajaran sebagai Model Pembiasaan Perilaku Belajar Siswa SD Negeri 064018 di Medan Sunggal

Implementasi Konseling Perkembangan dalam Pembelajaran sebagai Model Pembiasaan Perilaku Belajar Siswa SD Negeri 064018 di Medan Sunggal

Implementasi Metode Pembelajaran SQ3R Berbantuan LKS untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Kimia Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Singaraja

Implementasi Metode Pembelajaran SQ3R Berbantuan LKS untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Kimia Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Singaraja

Implementasi Metode RME (Realistics MathematicEducation) Guna Meningkatkan Prestasi Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Materi Nilai Tempat Sebuah Bilangan Pada Siswa Kelas V  SD Negeri……Tahun 2010/2011

Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Portofolio untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X Semester 1 SMA YP UNILA Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2005/2006

Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Portofolio untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X Semester 1 SMA YP UNILA Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2005/2006

Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri Terpimpin dalam Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Singaraja

Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri Terpimpin dalam Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Singaraja

Implementasi Model Pembelajaran Reasoning and Problem Solving Berbasis Open-Ended Problem untuk Meningkatkan Kompetensi Penalaran dan Komunikasi Matematika Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Singaraja

Implementasi Model Pembelajaran Reasoning and Problem Solving Berbasis Open-Ended Problem untuk Meningkatkan Kompetensi Penalaran dan Komunikasi Matematika Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Singaraja

Implementasi Pendekatan Matematika Realistik Berbantuan LKS dengan Model Pembelajaran Kooperatif TPS dalam Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP

Implementasi Pendekatan Matematika Realistik Berbantuan LKS dengan Model Pembelajaran Kooperatif TPS dalam Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP


Implementasi Pendekatan Pembelejaran Kooperatif dalam Pembelajaran Biologi Semester Gasal Tahun Ajaran 2005/2006 untuk Mengatasi Rendahnya Pemahaman Siswa


Implementasi Pendekatan Pembelejaran Kooperatif dalam Pembelajaran Biologi Semester Gasal Tahun Ajaran 2005/2006 untuk Mengatasi Rendahnya Pemahaman Siswa


Implementasi Perangkat Model Bangun Ruang Sisi Lengkung dalam Pembelajaran Pokok Bahasan Tabung, Kerucut dan Bola di Kelas II SMP Negeri 1 Palu


Implementasi Perangkat Model Bangun Ruang Sisi Lengkung dalam Pembelajaran Pokok Bahasan Tabung, Kerucut dan Bola di Kelas II SMP Negeri 1 Palu


Implementasi Perangkat Model Geometri Molekul dalam Pembelajaran Pokok Bahasan Teori Domain Elektro dan Gaya Antarmolekul di Kelas XI SMU Negeri 1 Palu


Implementasi Perangkat Model Geometri Molekul dalam Pembelajaran Pokok Bahasan Teori Domain Elektro dan Gaya Antarmolekul di Kelas XI SMU Negeri 1 Palu


Implementasi Portofolio Berbasis Asesmen Autentik untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan hasil Pembelajaran Matematika di SMA Negeri 1 Sungguminasa Kabupaten Gowa


 Implementasi Portofolio Berbasis Asesmen Autentik untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan hasil Pembelajaran Matematika di SMA Negeri 1 Sungguminasa Kabupaten Gowa


Implementasi Strategi 5E dengan Bahan Ajar Bermuatan Perubahan Konseptual sebagai Upaya Mengubah Miskonsepsi, dan Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMPN 6 Singaraja


Implementasi Strategi 5E dengan Bahan Ajar Bermuatan Perubahan Konseptual sebagai Upaya Mengubah Miskonsepsi, dan Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMPN 6 Singaraja


Implementasi Teori Belajar Action, Process, Object, Schema dengan Menggunakan Pendekatan Siklus: Activities, Class-Discussion, Exercise untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika Siswa SMP


Implementasi Teori Belajar Action, Process, Object, Schema dengan Menggunakan Pendekatan Siklus: Activities, Class-Discussion, Exercise untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika Siswa SMP


Implementasi Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Tari Puspawresti Pada Siswa Kelas VIII D Semester Ganjil SMP Negeri


Implementasi Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Tari Puspawresti Pada Siswa Kelas VIII D Semester Ganjil SMP Negeri


Integrasi Outdoor Learning Dan Indoor Learning Dalam Meningkatkan Kemandirian Anak Di TK


Integrasi Outdoor Learning Dan Indoor Learning Dalam Meningkatkan Kemandirian Anak Di TK


Kolaborasi Pendekatan Struktural dengan Pendekatan Kontekstual Melalui Metode Diskusi dalam Mengoptimalisasikan Pembelajaran Apresiasi Puisi Siswa Kelas VIII MTsN Lubuk Linggau


Kolaborasi Pendekatan Struktural dengan Pendekatan Kontekstual Melalui Metode Diskusi dalam Mengoptimalisasikan Pembelajaran Apresiasi Puisi Siswa Kelas VIII MTsN Lubuk Linggau


Memanfaatkan Metode Debat Secara Formal untuk Mengoptimalkan Pemahaman Bioetika pada Pembelajaran Materi Kesehatan Reproduksi Siswa Kelas XI MAN 1 Banjarmasin


Memanfaatkan Metode Debat Secara Formal untuk Mengoptimalkan Pemahaman Bioetika pada Pembelajaran Materi Kesehatan Reproduksi Siswa Kelas XI MAN 1 Banjarmasin


Meminimalkan Kesalahan Operasi Hitung Bentuk Aljabar Siswa Kelas II MTsN Kenali Besar Jambi Melalui Penggunaan Pita Garis Bilangan


Meminimalkan Kesalahan Operasi Hitung Bentuk Aljabar Siswa Kelas II MTsN Kenali Besar Jambi Melalui Penggunaan Pita Garis Bilangan


Meminimalkan Kesalahan Siswa Kelas III-IPA SMAN 1 Banjarmasin dalam Menyelesaikan Persamaan Trigonometri Melalui Strategi Konflik Kognitif dan Problem Solving dalam Pembelajaran Kooperatif


Meminimalkan Kesalahan Siswa Kelas III-IPA SMAN 1 Banjarmasin dalam Menyelesaikan Persamaan Trigonometri Melalui Strategi Konflik Kognitif dan Problem Solving dalam Pembelajaran Kooperatif

Menciptakan Iklim Pembelajaran Sejarah yang Menyenangkan melalui Snowball Drilling Method


Menciptakan Iklim Pembelajaran Sejarah yang Menyenangkan melalui Snowball Drilling Method


Mengatasi Miskonsepsi Siswa Kelas III SMPN 24 Banjarmasin pada Materi Ajar Listrik Dinamis dengan Menerapkan Teknik Pemodelan dalam Setting Pembelajaran Generatif


Mengatasi Miskonsepsi Siswa Kelas III SMPN 24 Banjarmasin pada Materi Ajar Listrik Dinamis dengan Menerapkan Teknik Pemodelan dalam Setting Pembelajaran Generatif


Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Konsep Peluang melalui Pendekatan Kontekstual pada Siswa Kelas XI MA Mualimat NW Pancor Lombok Timur NTB


Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Konsep Peluang melalui Pendekatan Kontekstual pada Siswa Kelas XI MA Mualimat NW Pancor Lombok Timur NTB


Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Sistem Gerak Melalui Penerapan Strategi Concept Mapping pada Kelas II.2 SMPN 12 Kendari


Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Sistem Gerak Melalui Penerapan Strategi Concept Mapping pada Kelas II.2 SMPN 12 Kendari


Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Terhadap Konsep Gelombang Mekanik Melalui Pendekatan Kooperatif Model Tgt Menggunakan Figjig Pada Kelas III IPA SMA Negeri


Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Terhadap Konsep Gelombang Mekanik Melalui Pendekatan Kooperatif Model Tgt Menggunakan Figjig Pada Kelas III IPA SMA Negeri


Meningkatkan Kefahaman Pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup Dengan Menggunakan Pembelajaran Modeling Pada Kelas Dua Tahun Pelajaran………


Meningkatkan Kemampuan Aspek Psikomotor melalui Pembelajaran Berbasis Laboratorium pada Materi Termokimia di SMA Negeri 1 Jombang


Meningkatkan Kemampuan Aspek Psikomotor melalui Pembelajaran Berbasis Laboratorium pada Materi Termokimia di SMA Negeri 1 Jombang


Meningkatkan Kemampuan Bahasa Inggris Siswa Kelas VII SMPN 5 Bandar Lampung melalui Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)


Meningkatkan Kemampuan Bahasa Inggris Siswa Kelas VII SMPN 5 Bandar Lampung melalui Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)


Meningkatkan Kemampuan Mendengarkan Wacana Berbahasa Inggris Siswa Kelas XI dengan Text-Based Listening di SMAN I Natar Lampung Selatan


Meningkatkan Kemampuan Mendengarkan Wacana Berbahasa Inggris Siswa Kelas XI dengan Text-Based Listening di SMAN I Natar Lampung Selatan


Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah melalui Pendekatan Matematika Realistik di Kelas 7 SMPN 1 Kotamadya Bengkulu


Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah melalui Pendekatan Matematika Realistik di Kelas 7 SMPN 1 Kotamadya Bengkulu


Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas VI SD Negeri 32 Poasia Kendari dalam 

Menyelesaikan Soal Matematika Berbentuk Cerita Melalui Pendekatan Matematika Realistik

Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas VI SD Negeri 32 Poasia Kendari dalam Menyelesaikan Soal Matematika Berbentuk Cerita Melalui Pendekatan Matematika Realistik
 

Meningkatkan Keterampilan Menulis Wacana Argumentasi Siswa Kelas X SMA Negeri

Meningkatkan Keterampilan Merumuskan Kesimpulan Melalui Penggunaan Peta Konsep pada Pengelompokan Makhluk Hidup Mata Pelajaran Sains-Biologi di Kelas VII-1 SMP Negeri 9 Kendari


Meningkatkan Keterampilan Merumuskan Kesimpulan Melalui Penggunaan Peta Konsep pada Pengelompokan Makhluk Hidup Mata Pelajaran Sains-Biologi di Kelas VII-1 SMP Negeri 9 Kendari


Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Siswa Kelas III IPA SMA Negeri 8 Kendari Melalui Model Pembelajaran Inquiri


Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Siswa Kelas III IPA SMA Negeri 8 Kendari Melalui Model Pembelajaran Inquiri


Meningkatkan Kompetensi Dasar Siswa Kelas IX SMP 25 Semarang dalam Pokok Bahasan Lingkaran melalui Penerapan Cooperative Learning Tipe TGT Bercirikan CTL


Meningkatkan Kompetensi Dasar Siswa Kelas IX SMP 25 Semarang dalam Pokok Bahasan Lingkaran melalui Penerapan Cooperative Learning Tipe TGT Bercirikan CTL


Meningkatkan Kualitas Hasil dan Proses Pembelajaran Siswa tentang Kinematika Melalui Pembelajaran Multimodel Berbasis CTL pada Siswa Kelas X SMAN 1 Kabupaten Pontianak


Meningkatkan Kualitas Hasil dan Proses Pembelajaran Siswa tentang Kinematika Melalui Pembelajaran Multimodel Berbasis CTL pada Siswa Kelas X SMAN 1 Kabupaten Pontianak


Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Inggris di SMPN 1 Jember melalui Learning Community dengan Teknik Permainan Komunikatif


Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Inggris di SMPN 1 Jember melalui Learning Community dengan Teknik Permainan Komunikatif


Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Konsep Keanekaragaman Hayati melalui Penerapan Model Investigasi Kelompok di SMA 9 Semaran


Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Konsep Keanekaragaman Hayati melalui Penerapan Model Investigasi Kelompok di SMA 9 Semaran


Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Menyimak, Membaca, dan Menulis Bahasa Inggris Siswa SMP 1 Jember melalui Cerita


Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Menyimak, Membaca, dan Menulis Bahasa Inggris Siswa SMP 1 Jember melalui Cerita


Meningkatkan Partisipasi Siswa Kelas VII SMP Maryam Surabaya dalam Pembelajaran Matematika Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw


Meningkatkan Partisipasi Siswa Kelas VII SMP Maryam Surabaya dalam Pembelajaran Matematika Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw


Meningkatkan Pemahaman dan Hasil Belajar Bangun Ruang Siswa Kelas X SMAN 4 Kendari dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif


Meningkatkan Pemahaman dan Hasil Belajar Bangun Ruang Siswa Kelas X SMAN 4 Kendari dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif


Meningkatkan Pemahaman Siswa SLTPN 8 Jember tentang Kesebangunan dengan Penemuan Terbimbing (Guide Discovery)


Meningkatkan Pemahaman Siswa SLTPN 8 Jember tentang Kesebangunan dengan Penemuan Terbimbing (Guide Discovery)


Meningkatkan Penguasaan Konsep Matematika Pokok Bahasan Statistika dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Kendari


Meningkatkan Penguasaan Konsep Matematika Pokok Bahasan Statistika dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Kendari


Meningkatkan Penguasaan Kosa Kata Bahasa Arab melalui Permainan (Studi di Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 KH. Mas Mansur Malang)






100 JUDUL PENELITIAN ILMIAH - PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) LENGKAP Bag 2 di sini !!.

Sumber: http://biotakson.blogspot.com/2013/01/532-kumpulan-judul-penelitian-tindakan.html

Rabu, 15 Oktober 2014

ASPEK MANTRA DALAM PUISI BAHASA BANJAR

Warga--belajar--Berikut ini kita akan mencoba mempelajari sedikit tentang aspek religi mantra pada puisi bahasa Banjar. Dalam tulisan ini Bapak akan mengangkat sebuah puisi bahasa Banjar dari guru, sahabat dan pembimbing penulis dalam dunia sastra ketika penulis masih aktif menulis cerpen dan puisi. Beliau adalah Noor Aini Cahya Khairani, dari sekian banyak puisi hebat yang dihasilkan dari buah tangan dan pikiran beliau semasa hidup, salah satu puisi yang menjadi pavorit sangat saya sukai adalah puisi bahasa banjar yang berjudul : "Mangariau Naga".

Dari judul puisi ini yaitu Mangariau Naga dapat kita artikan dengan "memanggil naga", tetapi kata “memanggil” dalam bahasa Indonesia jika disandingkan dengan kata dalam bahasa Banjar “mangariau” lebih spesifik lagi yang berkaitan dengan konsepsi religi magi atau hal-hal gaib. Kata “mangariau” dalam kerangka bahasa Banjar tempio dulu adalah dari kata “kariaw” yang artinya tarikan gaib; mangariau artinya menarik secara gaib. Jika “kana kariaw” kena pengaruh gaib, kena guna-guna.

Sedangkan pengertian dari “naga” adalah berkaitan dengan suatu mitos dari beberapa kisah kosmos tentang seekor binatang (ular besar) yang juga dipercaya keberadaannya oleh sebagian masyarakat Banjar. Seperti kita dengar istilah dan ucapan orang-orang banjar tempo dulu, “naga” adalah naga; banaga-naga artinya ada  naga (nya); bananagaan bernaga-nagaan, ada naga-nagaannya : tajau malawan rancak : belanga antik sering ada naga-naganya.

Dalam konsepsi religi Mangariau Naga  berkaitan dengan hal-hal yang gaib melibatkan mantra dalam bahasa Banjar “Mamang” yang dilakukan dalam kegiatan ritual “mangariau” tersebut.

Mangariau Naga dapat dilihat dalam gambaran suatu kisah kosmos tentang naga orang Banjar, mite naga yang dipercaya menghuni sungai-sungai besar di wilayah Kalimantan Selatan yang masing-masing diberi nama naga sirintik dan naga siribut, menurunkan perilaku gaib bagi lingkungan kerajaan Banjar tempo dulu dan masyarkat Banjar tersebut. Gambaran hal ini dapat dilihat dalam kutipan Puisi sebagai berikut :
……………………….
Limbah pikah ampat puluh satu pangayuh
limbah tapaluh nangkaya mangayuh jukung basauh
bakalambu ujan panas marintik, basasajian
bapakaian saraba kuning, babaras kuning pawang
bamamang ;
“ barakat aksaraku tatinggi pada ikam
ikam kada mangariau ku aku nang mangariau ikam
uiii, sirintik siribut nang basisik habang sinang
babalang-balang
napa batapa di kalurungan
kada mayukah  wadai ampat puluh satu macam
kambang laki-bini pitu macam”
lampah, darah alam jalallah 
nang datang matan raden Samudra
sampai kakita.
…………………………….

Naga yang dimantrai (bamamang), dan dikariaw dalam Puisi ini memiliki dua pengertian yaitu : pertama, naga seperti yang terdapat dibalik misteri mitos gaib yang terjadi di sungai-sungai dan daratan Kalimantan Selatan. Kedua, pengertian naga sebagai substansi generasi muda penerus “banua” (nanang-galuh) yang harus digugah semangatnya agar menjadi lebih maju, tidak membiarkan diri larut dalam segala keadaan, sifat dan perilaku negatif yang disimbolkan dengan “banyu nang karuh”. Dengan mantra maka ia “dikariaw” seperti kutipan ini :
……………………………
Jangan hanyut ulih banyu nang karuh
Dingsanakku, hulu masih jauh
Ayu hancap kayuh tambangan
Tampulu kita baluman kakadapan.

Terlepas dari konteks logis atau tidak logisnya suatu pemikiran religi magi, mantra yang terdapat dalam puisi Mangariau Naga ini harus diselami dari dunianya, yaitu secara metafisik dan mistis. Secara mendasar dunia mistis ini memiliki lingkup tersendiri, menurut Joseph J. Weed (1991 : 18) kita memiliki sifat ganda terdapat dua unsur yang mengarungi sistem kita yaitu energi fisik dan energi rokh (energi batin), tidak ubahnya suatu sistem yang terdiri dari berbagai variabel kosmos dalam lingkup ruang gaib yang luar biasa dinamika, makna dan daya imajinasinya. Dunia yang dimaksud satu ini yaitu dunia yang meramu dua variabel yaitu irasional yang berada di luar batas jangkauan logika dan dunia logos sebagai suatu sistem konvensi kemampuan indra manusia. 

Mantra “Mamang” dalam puisi ini yang juga berada dalam dunia mistis adalah sebagai suatu tanda bahwa penyair melakukan suatu langkah untuk melewatu suatu batasan dunia pada dimensi yang lain. Dimensi yang ditandai oleh pencarian identitas jati diri terhadap alam semesta beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Manusia dalam prosesnya mencari suatu strategi untuk menemukan hubungan yang tepat antara manusia dan daya-daya kekuatan yang ada di alam semesta ini.

Dalam puisi ini dengan teradobsinya nilai-nilai budaya masyarakat yang bersifat mistis ini, penyair memberikan suatu gambaran pemikiran di atas, yaitu alam pemikiran ontologis manusia mulai mengambil jarak terhadap segala/sesuatu yang mengitarinya. Penyair dalam posisi ini, tidak lagi sebagai seorang penonton prosesi, melainkan telah berusaha memperoleh pengertian daya-daya yang menggerakan alam dan manusia. Karena itu di sini penyair memulai suatu hubungan perenungan fisik dan alam irasional sebagai kaji-renung metafisik untuk selanjutnya dikedepankan sebagai nilai-nilai yang berharga dalam karya puisi tersebut.

Kata-kata “Mamang”, “Kariau”, dan “Naga” berada dalam lingkup dunia metafisik dan mistis. Jika diuraikan jalinannya berada dalam lingkup hidup dunia mitodologi. Dalam dunia seperti ini tidak ada garis pemisah yang jelas antara dunia realitas dan dunia maya dengan manusia, antara subyek dan obyek. Hubungan manusia dengan makhluk gaib dalam tahap tersebut bisa dikatakan sebagai suatu subyek, berupa lingkaran yang masih dapat dibuka dan diselami rahasianya, yang akhirnya bermuara kepada ketauhidan dari kekuasaan Tuhan.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Peursen (1995 : 124) yang menguraikannya sebagai ruang “Sosio-mistis” yaitu suatu lingkup daya kekuatan semesta yang ditentukan oleh pertalian antar suku (sosio) dan oleh sikap yang mistis-mistis. Inti dari sikap mistis tersebut, bahwa kehidupan ini ada, ajaib dan berkuasa. Penuh daya kekuatan. Dan dengan kesadaran tersebut timbulah cerita-cerita mistis.

Jadi pandangan akan “naga” ini bukan hal yang tidak rasional bila naga sebagai seekor binatang, menghadirkan kekuatan supranatural bagi kehidupan manusia. Hubungan alamiah dan adikodrati yang dapat menghantarkan eksistensi manusia pada cita-cita individual dalam masyarakat yang komunal.

Secara umum jika kita teliti ada konvensi dan keyakinan masyarakat  umum yang mewarnai struktur mithe yang banyak tersebar di nusantra bahkan di dunia ini yaitu unsur dunia atas dan unsur dunia bawah sebagai asal penciptaan dunia mistis. Mitos Naga Banjar adalah merupakan salah sekian dari beragam ceritera yang berkembang di wilayah nusantara ini yang dapat kita lihat dalam tiap-tiap bagian masyarakat adat atau suku yang mendiami wilayah yang terbentang dari sabang sampai merauke ini.

Membaca konsep lanskap alam yang menjadi setting puisi ini, kita mengarahkan pada latar belakang penyair sebagai salah seorang masyarakat atau suku Banjar yang kehidupannya bermula pada proses dinamika alam Banjar, ia terlihat sangat dekat dengan lingkungannya terutama lingkungan sungai yang memang melingkupi seluruh kehidupannya. Pada masyarakat Kalsel sendiri pada umumnya sarana air dan sungai merupakan sarana aktivitas keseharian yang sangat dominan dan sangat vital. Kehidupan yang dimulai dari proses konsumsi, transportasi, ekonomi sampai kegiatan buang air besar dan kecil. Karena itu bagi penyair mantra-mantra yang dilakukan diarahkan pada kehidupan sungai ini. Ada beberapa kata dan kalimat dalam puisi tersebut yang berkaitan dengan dinamika sungai ini seperti kata-kata dan kalimat dalam kutipan puisi ini :
…………………………..
Di bawah kalas muha ari, di atas soklat sungai martapura  
……………………………
Mangayuh tambangan tumatan muhara ka hulu
mananjak ilung nang datang tumatan Baritu
………………………………..
gasan anak cucu nang di tabing atau di banyu
tabing lawan banyu kita, urang Banjar
…………………………………
Limbah pikah ampat puluh satu pangayuh
limbah tapaluh nangkaya mangayuh jukung basauh
……………………………
Jangan hanayut ulih banyu nang karuh
Dingsanaku, hulu masih jauh
Ayu hancap kayuh tambangan
………………………..

Unsur air (banyu), perahu (jukung), rakit (lating/batang), enceng gondok (ilung), tebing atau tepian sungai (tabing) merupakan tradisi dari sebuah kebudayaan sungai yang sudah mendarah daging dan berurat mengakar pada masyarakat Banjar. Begitu pula saat proses mangariau dengan perilaku seorang pawang yang “bamamang” (membaca mantra), yaitu gambarannya dapat ia dilakukan di pinggir sungai dengan pakaian serba kuning, menaburkan beras kuning dan melarutkan atau memasukan ke dalam sungai kue-kue makanan khas Banjar sejumlah empat puluh satu jenis, bunga-bunga pria dan wanita “pitu” (tujuh) macam bunga, sebagai lambang kesempurnaan dan kelengkapan sesaji setelah menggenapkan semedi atau meditasi yang telah dilakukan. Hal tersebut secara logika dan akal memang tidak bisa diterima, karena hanya berupa pemborosan materi dan pembuangan energi belaka. Tetapi jika kita lepaskan jubah logika dan memandangnya dari kacamata paranormal, metafisik, dan parapsikologi akan terlihat suatu nilai harmonium yang relevan dengan hidup manusia yang mendambakan kesempurnaan. Sehingga hal ini dapat dipahami dan diterima oleh akal manusia itu sendiri.

Dalam proses mistis di atas, kita harus memahami dunia antologi mistis, dan harus meletakan mithe sebagai teks dasar yang harus dikaji dengan kesadaran tersendiri sehingga kita memandang dan memuat dunia makro yang berisi nilai multidimensi kemasyarakatan. Dunia mistik sendiri berdiri dalam batasan cukup transparan ia dapat dilihat dari kacamatan ilmiah dengan melibatkan pembuktian-pembuktian yang logis dan jujur dalam prosesnya (Joseph J. Weed 1991 : 17-27).

Mantra yang dimuat penyair dalam puisi kita anggap sebuah teks mistis. Teks ini harus dipandang sebagai miniatur refleksi kehidupan yang serba kompleks. Kalau kita renungi pesan-pesannya maka akan terlihat sebuah dunia yang sangat menarik tanpa memberikan pembatasan antara dunia angker/sakral yang identik dengan kesunyian, kesepian dan kegelapan dengan dunia nyata yang identik dengan warna-warni, hiruk-pikuk dan semangat yang menyala-nyala.

Dari hasil pengalaman di masyarakat kita akan dapatkan suatu mantra itu sesuai dengan tujuannya pawang atau orang yang menggunakannya. Karenanya mantra identik dengan tujuannya, yaitu bermacam-macam, seperti untuk mangariau naga tersebut. Bagi kita lepas dari masalah itu, kita melihat mantra itu hanya dari segi keindahan (estetika) dan permainan kata saja, juga dari segi bahasa kesusastraan itu sendiri.

BIODATA PENYAIR NOOR AINI CAHAYA KHAIRANI
Sekedar mengenang dan mengingat kehadiran belau dihati, dan jasa-jasa beliau terhadap penulis dan sahabat-sahabatnya yang lain, berikut ini adalah biografi singkat kehidupan pribadi dan kepenyairan beliau semasa hidup :
  
Noor Aini Cahya Khairani adalah penyair daerah Kalimantan Selatan yang berdomisili di Banjarmasin. Noor Aini Cahya Khairani dilahirkan di Banjarmasin tanggal 10 Januari  1959, meningal dunia hari Senin, 18 Agustus 2003.  Masa kecilnya banyak dihabiskan di lingkungan keluarganya dekat dengan kehidupan sungai yang dekat dengan pasar terapung di daerah Kuin Utara Banjarmasin. Menyukai dunia tulis-menulis sejak tahun 1980, tetapi mulai benar-benar serius setelah tahun 1984. Puisi, cerita pendek dan esai sastranya dimuat diberbagai media masa seperti di Surat Kabar Merdeka, Swadesi, Bali Post, Sinar Harapan, Banjarmasin Post, Dinamika Berita, Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni (UMSIS) RRI Nusantara III Banjarmasin dan Majalah Sastra Budaya Horison.

Karya-karya Pengarang:
Dari segi karya-karyanya Noor Aini Cahya Khairani banyak menulis Puisi dan Cerita Pendek disamping beberapa essai dan tulisan sastra populer lainnya. Puisi-puisinya banyak terhimpun dalam antologi bersama, antara lain seperti dalam antologi : Forum  Puisi Indonesia “87 (terbitan Dewan Kesenian Jakarta, 1987), Antologi Puisi Sanggar Minum Kopi Bali (Bali, 1990), antologi LPPIA (Surabaya, 1992), antologi Refleksi 50 tahun Indonesia Merdeka (Taman Budaya Surakarta, 1995), antologi Puisi Indonesia (Komunitas Sastra Indonesia, Bandung, 1997), dan berbagai antologi puisi bersama penyair Kalimantan Selatan lainnya.

Setelah giat menulis sejak 1984, prestasinya dalam dunia sastra terus bertambah. Antara lain, Juara I Lomba Puisi Deppen-Depdikbud Kalsel (1985), Juara I Lomba Tulis Cerpen Bahasa Banjar Himpunan Sastrawan Indonesia (HIMSI) Kalsel (1986), Juara I Lomba Tulis Puisi Bebas HIMSI Kalsel (1989) dan salah satu dari 10 Puisi Terbaik Lomba cipta Puisi Se-Indonesia yang diadakan Sangga Minum Kopi (SKM) Bali (1990) Salah satu puisinya pernah terpilih sebagai puisi terbaik dalam lomba tulis puisi hari kebangkitan nasional. Juga puisi dan cerpennya berhasil meraih juara pertama dalam lomba yang diadakan oleh Himpunan sastrawan Indonesia Kalimantan Selatan. Puisi Mangariau Naga adalah salah satu puisinya dalam bahasa Banjar yang menjadi pemenang pertama dalam lomba tulis Puisi Bahasa Banjar Tahun 1999 yang juga diadakan HIMSI Kalimantan Selatan.

Tahun 1997 Noor Aini Cahya Khairani mengikuti Forum Puisi  Indonesia ’87 yang dilaksanakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1997), pemakalah dalam diskusi sastra di Galeri Made Wianta di Denpasar (1990); peserta Temu Sastra Lembaga Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (LIPPIA) di Surabaya (1992,1994), Pekan Seni Daerah Banjar di Anjungan Kalsel di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta (TMII) Jakarta (1995), Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka di Solo (1995), Bedah Buku dan Diskusi Sastra Kepulauan II di Makasar (2000), Banjarmasin Performing Art di Banjarmasi (2001) dan Dialog Borneo-Kalimantan VII di Swiss-Belhotel Borneo Banjarmasin (2003).

Selain membacakan puisi di forum sastra lokal maupun nasional, ia sering diminta menjadi juri lomba membaca maupun mengarang puisi dan pemakalah dalam sejumlah sarasehan, seminar dan diskusi sastra. Tahun 1999 dianggap sebagai puncak prestasinya menjadi seniman khsusnya seniman seni sastra daerah Banjar, Noor Aini Cahya Kahirani menerima Hadiah Seni di bidang Seni Sastra dari Gubernur Kalsel.

Sumber: Disarikan dari Makalah Kuliah PENULIS yang berjudul "Seni Budaya Banjar dalam Sastra Puisi Daerah Banjar". yang diajukan untuk mata kuliah Dinamika Budaya.

Selasa, 29 Juli 2014

CARA MENYUSUN RANCANGAN PENELITIAN SOSIAL




Buku untuk penelitian, literatur,
Para Warga Belajar sekalian, berikut ini pada mata pelajaran  Sosiologi  kita akan membahas tentang bagaimana “Menyusun Rancangan Penelitian Sosial”. Diharapkan dengan mempelajari cara menyusun rancangan penelitian sosial ini kalian akan mampu membuat penelitian mulai dari tahapan perencanaan dan perancangan penelitian hingga pada akhir evaluasi dan pelaporan penelitian. Adapun materi pokok yang akan kita bahas adalah mengenai :
1.         Pengertian penelitian
2.         Menentukan topik penelitian
3.         Merumuskan dan memilih pertanyaan-pertanyaan penting penelitian
4.         Memilih subyek (populasi dan sampel) penelitian
5.         Mengenal jenis-jenis data yang akan dikumpulkan (data primer dan data skunder)
6.         Mengenali dua pendekatan utama penelitian (pendekatan kuantitatif dan kualitatif).

Senin, 16 Juni 2014

MEMAHAMI KONSEP PTK PNF DENGAN MODEL "PECAH TELUR"

Penelitian Tindakan Kelas atau yang lajim disingkat dengan PTK adalah kegiatan penelitian yang dilakukan tenaga pendidik di kelas-kelas yang dilaksanakannya. Adapun elemen dasar dari pelaksanaan PTK adalah proses mulai dari penyusunan rencana, pelaksanaan sampai evaluasi pembelajaran hingga melakukan perbaikan adalah elemen dasar dari pelaksanaan PTK. Kegiatan action atau tindakan pendidik didepan kelas adalah bentuk pelaksanaan tindakan, kegiatan menilai identik dengan melakukan pengamatan, sementara hasil penilaian yang dianalisis erat kaitannya dengan refleksi dalam PTK.

Salah satu alternatif yang dapat dimunculkan untuk mempercepat pemahaman para pendidik terhadap konsep PTK adalah dengan model "Pecah Telur". Pecah telur di sini dimaknai layaknya orang memecah sebuah telur, setelah telur pecah akan terlihat mana kulit ari telur, mana putih telur serta mana kuning telur. Tentu saja sebelum terpecah yang tempak adalah kulit keras sebuah telur.

Kondisi telur yang masih utuh adalah gambaran laporan hasil PTK atau proposal PTK. Sebelum dipecah dalamnya, maka yang tampak adalah sebutir benda, berbentuk elip, keras, tidak memberikan kesan bila di dalamnya terdapat sesuatu yang layak untuk diketahui. Meskipun setiap orang pernah merasakan telur yang sudah di masak, mengetahui kandungan gizi yang ada, secara teori pun paham bagian-bagiannya, tidak selalu mendatangkan pemahaman akan kondisi unsur pembangunannya secara nyata bila tidak dipecahnya.

Demikian juga dengan PTK berikut proposal, setiap pendidik, sekurang-kurangnya telah mendengar apa itu PTK, Karena sudah pernah mendapatkan pelatihan meskipun secara sepintas, bahkan secara nyata telah melaksanakan anasir-anasirnya, tanpa menelaah ulang bagian-bagian secara nyata masih akan terasa sulit untuk memahami secara mendalam, apalagi melaksanakannya. Untuk itulah, prosas analisis dan mensintesakannya sangat perlu untuk dilakukan.

Proses pecah telur PTK dapat dilakukan dengan menyajikan laporan hasil PTK kepada para peserta kegiatan pertemuan pendidik/ pamong belajar secara utuh. Laporan tersebut kemudian dipisah-pisahkan secara fisik bagian demi bagian. Mulai dari pendahuluan, kajian pustaka, metodologi penelitian, laporan pelaksanaan tindakan peserta simpulan dan saran-saranya diberikan kepada peserta kegiatan.

Demikianlah tentang konsep PTK dalam  Pendidikan Non Formal dengan model "Pecah Telur". Memahami PTK model pecah telur hanyalah salah satu cara dalam mempelajari PTK, tentunya masih banyak cara lain yang bisa dimanfaatkan. Muara dari dari kegiatan tersebut adalah para pendidik mampu melaksanakan PTK beserta laporannya. Setiap cara tertentu memiliki kelebihan dan kekurangan, yang bagi peserta kegiatan (pendidik) mudah dan menghasilkam pemahaman itulah yang harus dipilih. Oleh karena itu cara pecah telur tidak harus dipaksakan untuk dilaksanakan. Semoga bermanfaat. terima kasih.   

Sumber: J. PAUDNI-4 Edisi 2013

Rabu, 11 Juni 2014

MAKALAH PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN KF KEAKSARAAN FUNGSIONAL


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Keaksaraan fungsional (KF) merupakan sebuah pendekatan melalui program pendidikan non formal untuk mengatasi masyarakat yang menyandang buta aksara. Keaksaraan fungsional diartikan secara sederhana sebagai kemampuan untuk membaca, menulis dan berhitung (calistung) serta berorientasi pada kehidupan sehari-hari dengan memanfaatkan kearifan lokal dan sumber daya alam yang ada di lingkungan sekitar untuk meningkatkan mutu dan taraf hidup warga belajarnya.
Keaksaraan fungsional membantu masyarakat lebih berdaya dengan cara belajar untuk menambah kemampuan dan pengetahuan. Penyandang buta aksara dalam kehidupan sehari-hari akan dihadapkan pada dilema dan masalah yang sangat komplek. Seperti, kesulitan mendampingi dan membantu dalam menyelesaikan tugas sekolah anaknya di rumah. Penyandang buta aksara (buta huruf) dapat dianggap negatif di lingkungan sekitar yang berdampak pada psikologisnya karena adanya kesenjangan dalam status sosial pada baca, tulis dan berhitung mengenai angka dan bukan hanya pada menghitung uang saja.
Penyandang buta aksara juga memiliki keterbatasan tidak dapat membaca dan menulis untuk mengurus administrasi kependudukan, seperti pembuatan KTP (Kartu Tanda Penduduk). Proses mendapatkan akses pengurusan jaminan kesehatan masyarakat dengan prosedur membuat keterangan keluarga miskin kepada aparatur pemerintah terendah yaitu Rukun Tetangga (RT) sampai dengan tingkatan teratas juga termasuk keterbatasan penyandang buta aksara. Proses tersebut dapat dilihat ketika mereka harus mengisi absensi pertemuan atau kegiatan dilingkungan. Fakta tersebut, terlihat bahwa penyandang buta aksara kurang memiliki kesempatan dengan kata lain mereka haruslah bergantung kepada orang lain. Adanya program keaksaraan fungsional, penyandang buta aksara memiliki kekuatan untuk meningkatkan mutu dan kualitas hidupnya dalam kehidupan sehari-hari.
Jumlah penyandang buta aksara di Indonesia memang dapat dikatakan masih besar, hal ini dapat dilihat dari data Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) tahun 2011 mengenai penduduk Indonesia yang buta huruf (penyandang buta aksara usia 15 tahun ke atas sebanyak 7,76 juta orang. Sebanyak 64% atau 6,3 juta dari data Kemendiknas adalah perempuan masih menyandang buta aksara yang berusia 15 tahun ke atas (Kemendiknas, 2011).
Kemampuan baca tulis pada kenyataannya masih menjadi permasalahan bagi sebagian rakyat Indonesia khususnya perempuan miskin. Berdasarkan identifikasi data dilapangan,di kota Banjarmasin sendiri tercatat 1,760 penyandang buta aksara. Data Diknas Kota Banjarmasintahun 2011, dari  jumlah penduduk Kota Banjarmasinyang buta huruf (penyandang buta aksara) usia 15 tahun ke atas ada sebanyak sebanyak 1.553 orang. (Disdik Kota Banjarmasin: 2011).
Program Keaksaraan fungsional yang dilaksanakan oleh SKB Kota Banjarmasin sebagai salah satu upaya untuk turut membantu mengentaskan masalah buta aksara ini di masyarakat. Program Keaksaraan Fungsional inidilaksanakan pada periode pertama adalah selama delapan bulan dimulai dari bulan Januari 2013 – Agustus 2013 dengan enam bulan sebagai waktu pembelajaran utamanya. Sasaran untuk kegiatan keaksaraan fungsional dilaksanakan pada 2 kelompok belajar dengan 10 warga belajar (penyandang buta aksara yang mengikuti keaksaraan fungsional untuk belajar) setiap kelompoknya. Sebagai pilot project di Kota Banjarmasin untuk pembelajaran keaksaraan fungsional di wilayah kelurahan Alalak Utara dilaksanakan pada 2 kelompok belajar, yaitu di RW 02 Kuin Utara Kelurahan Alalak Utara Kecamatan Banjarmasin Utara.
Di RW 02 Kuin Utara Kelurahan Alalak Utara Kecamatan Banjarmasin Utara kegiatan belajar keaksaraan yang diselenggarakan oleh SKB Kota Banjarmasin. Kelurahan Kuin Utara memiliki 1 kelompok belajar sebagai pelaksanaan pada periode berikutnya untuk mencapai 20 warga belajar. Kelompok belajar keaksaraan fungsional yang direncanakan oleh SKB Kota Banjarmasin akan terdapat program lanjutan yang dimaksudkan untuk menjaga kemampuan baca, tulis dan berhitung (calistung) warga belajar agar tidak buta huruf kembali. Kegiatan pembelajaran lanjutan ini direncanakan akan membuka pembelajaan keaksaraan fungsional lanjutan dengan menggunakan pengembangan media Pembelajaran Papan Casing. Casing singkatan untuk Cantol Calistung dan Gasing, yang merupakan pengembangan media pembelajaran dengan mengaplikasikan antara media Poster/ beberan, papan tulis, Kartu huruf dan Angka, serta Game/ permainan tradisional yang berkompilasi antara permainan rakyat dan pembelajaran Calistung.
Secara umum kegiatan pembelajaran keaksaraan fungsional dasar dari pengelola diKota Banjarmasin selama ini yang berusaha menerapkan critical literacy sebagai bentuk upaya memenuhi Standar Kompetensi Keaksaraan Dasar (SKKD). Ruang lingkup SKKD sesuai dengan ketentuan Kemendiknas yang terdiri dari  5 pokok, yaitu, 1) Mendengar; 2) Berbicara; 3) Membaca; 4) Menulis; dan 5) Berhitung. Ternyata dalam penerapannya masih belum efektif sepenuhnya terakomodasi dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan, hal ini terbukti dengan masih adanya warga belajar yang berulang-ulang mengikuti program keaksaraan fungsional tersebut.
Kegiatan pembelajaran yang masih konfensional membutuhkan waktu dan pemahaman yang berat dan lama dari warga belajar untuk mencapai SKKD tersebut. Karena itu perlu dilakukan pengembangan metode dan media pembelajaran yang lebih efektif untuk membantu peningkatan pemahaman warga belajar dalam kegiatan belajarnya secara tutorial. Metiode ini dapat di aplikasikan dengan pengembangan media Pembelajaran Papan Casing. Casing singkatan untuk  Cantol, Calistung dan Gasing, yang merupakan pengembangan media pembelajaran dengan mengaplikasikan antara metode belajar membaca dan aksara mencantol, media Poster/ beberan, papan tulis, Kartu huruf dan Angka, serta Game/ permainan tradisional yang berkompilasi antara permainan rakyat dan pembelajaran Calistung tersebut.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka permasalahan yang dikemukakan dalam karya tulis ini adalah :
1.  Metode dan Media pembelajaran Keaksaraan Fungsional yang konfensional belum efektif  dalam meningkatkan pemahaman warga belajar dalam kegiatan pembelajaran Keaksaraan Fungsional.
2.  Tutor kesulitan menyediakan dan membawa media Pembelajaran ketempat belajar warga belajar Keaksaraan Fungsional.
3.  Warga belajar kurang tertarik dan kurang berminat terhadap media pembelajaran konfensional yang selama ini digunakan dalam Pembelajaran Keaksaraan Fungsional.

C. Tujuan
Mengacu pada  permasalahan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran atau informasi tentang :
1    Metode dan media pembelajaran Keaksaraan Fungsional baru yang lebih efektif untuk meningkatkan pemahaman warga belajar dalam kegiatan pembelajaran.
2.      Memudahkan tutor dalam menyediakan dan membawa media Pembelajaran ketempat belajar warga belajar Keaksaraan Fungsional.
3.      Meningkatkan Minat dan ketertarikan warga belajar terhadap media pembelajaran yang digunakan dalam Pembelajaran Keaksaraan Fungsional. 



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.  Media Pembelajaran
1.  Pengertian Media Pembelajaran
Istilah  media  berasal  dari  Bahasa  Latin  yang  merupakan  bentuk  jamak  dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.  Makna umumnya  media  adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.
Dalam penjelasan Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pedidikan (Assosiation of Education and Communication Technology/AECT) di Amerika, membatasi media sebagai bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang belajar. Sementara itu Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.
Istilah  media  ini  sangat  populer  dalam  bidang  komunikasi.  Proses  belajar  mengajar  pada dasarnya  juga  merupakan  proses  komunikasi,  sehingga  media  yang  digunakan  dalam 2 pembelajaran  disebut  media  pembelajaran.  Media  pembelajaran  adalah  segala  sesuatu  yang dapat  dipergunakan  untuk  merangsang  pikiran,  perasaan,  perhatian  dan  kemampuan  atau ketrampilan  peserta  sehingga  dapat  mendorong  terjadinya  proses  belajar  pada  diri  peserta pembelajaran (Arif S. Sadiman, 2009: 6-11) 
Pada mulanya  media  hanya  berfungsi sebagai  alat  bantu  visual  dalam  kegiatan belajar, yaitu berupa sarana yang cepat memberikan pengalaman visual kepada peserta antara lain untuk mendorong motivasi, memperjelas dan mempermudah konsep-konsep yang abstrak dan  mempertinggi  daya  serap  belajar.  Dengan  masuknya  pengaruh  teknologi  audio  maka lahirlah  alat  bantu  audio  visual  yang  terutama  menekankan  penggunaan  pengalaman  yang konkrit untuk menghindari verbalisme.

2. Jenis-Jenis Media Pembelajaran
Berdasarkan prinsip pembelajaran partisipatif dan andragogis, maka media pembelajaran yang digunakan hendaknya mengikuti alur atau siklus belajar berdasarkan pengalaman. Oleh karena itu dalam pembelajaran partisipatif, penggunaan media pembelajaran tersebut di atas pada umumnya digunakan untuk:
a.         Membantu mempermudah dan menstimulasi para peserta pembelajaran untukmelakukan pembahasan dan diskusi dan tidak bersifat instruksional.
b.        Membantu dan menstimulasi proses pengungkapan pengalaman, pengungkapanpermasalahan sesuai dengan kenyataan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
c.         Membantu menimbulkan "proses mengalami" untuk dapat diungkapkan sebagai bahan diskusi lebih jauh.
d.         Membantu peserta pembelajaran untuk "memperkuat" dan "memperteguh" hasil-hasil pembahasan atau hasil-hasil diskusi yang telah dilakukan oleh peserta itu sendiri.
Dalam  proses  pembelajaran Keaksaraan Fungsional,  banyak  jenis  media  yang  dapat  dimanfaatkan  untuk memproseskan  bahan  kajian.  Mulai  dari  media  yang  sederhana,  konvensional,  dan  murah  harganya, hingga media yang kompleks, rumit, modern yang harganya sangat mahal. Mulai dari yang hanya merespons indera tertentu, sampai pada perpaduan dari berbagai indera manusia yang  dapat  di  respons.  Dari  yang  hanya  secara  manual  dan  secara  konvensional  dalam mengoperasikannya,  hingga  yang  sangat  tergantung  pada  perangkat  keras  dan  kemahiran sumber daya manusia tertentu dalam mengoperasikannya.
Jenis  media  yang  lazim  dipergunakan  dalam  pembelajaran  antara  lain:  media  non proyeksi, media proyeksi, media audio, media gerak, media komputer, komputer multi-media, hipermedia dan media jarak jauh (Heinich, Molenda, Russel, 1996 : 8). 
Departemen Pendidikan  Nasional 2003, mengelompokkan media menjadi 10 golongan yang dapat dilihat dalam daftar tabel 1 sebagai berikut:

Tabel 1.
Jenis-jenis Media Pembelajaran
  

 
Sementara  itu, dari sekian banyak jenis media yang dapat dimanfaatkan  dalam pembelajaran keaksaraan fungsional dibuat klasifikasi media yang lebih sederhana sebagai berikut: Media yang tidak diproyeksikan, Media yang  diproyeksikan,  Media audio, Media video, Media  berbasis komputer dan Multi media kit dan sebagainya termasuk media yang diproyeksikan.
B.  Pengembangan Media Pembelajaran Keaksaraan Fungsional
Dalam bidang Pendidikan Non-Formal pada umumnya dan Pendidikan Keaksaraan khususnya, sebenarnya sudah sejak lama dikenal adanya kriteria yang  harus  dipatuhi  dalam  prosedur  penyusunan  pengembangan  media  atau  bahan  belajar.  Kriteria tersebut lebih dikenal istilah 7-M, yaitu:
1.    Mudah; artinya mudah membuatnya, mudah memperoleh bahan dan alatnya, serta mudah menggunakannya.
2.    Murah;  artinya  dengan  biaya  sedikit,  jika  memungkinkan  bahkan  tanpa  biaya,  media pembelajaran tersebut dapat dibuat.
3. Menarik; artinya menarik atau merangsang perhatian  warga belajar  (peserta  pembelajaran), baik dari sisi bentuk, warna, jumlah, bahasa maupun isinya.
4.    Mempan;  artinya  efektif  atau  berdayaguna  bagi  warga  belajar  (peserta  pembelajaran) dalam memenuhi kebutuhannya.
5.    Mendorong;  artinya  isinya  mendorong  warga  belajar  (peserta  pembelajaran)  untuk bersikap  atau  berbuat  sesuatu  yang  positif,  baik  untuk  dirinya  sendiri  maupun lingkungannya sesuai tujuan belajar yang diharapkan.
6.    Mustari; artinya tepat waktu, isinya tidak basi, dan sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal/sekitar tempat pembelajaran.
7.    Manfaat; artinya isinya bernilai, mengandung manfaat, tidak mubazir atau sia-sia, apalagi merusak.
Adapun langkah-langkah penyusunan dan pengembangan media pembelajaran keaksaraan fungsional ini juga mengacu pada kriteria tersebut. Penyusunan media pembelajaran dapat diartikan menciptakan media pembelajaran yang baru atau  belum  pernah  ada,  sedangkan  pengembangan  media  pembelajaran  dapat  diartikan  sebagai  upaya  mengadaptasi,  merekayasa,  atau  menyesuaikan  (modifikasi)  media  pembelajaran  yang sudah ada dengan kebutuhan dalam proses pembelajaran.   Dalam   proses  pembelajaran seringkali tidak dilengkapi dengan media pembelajaran yang memadai. Oleh karena  itu, pendidik (tutor/ fasilitator)  ataupun  pengelola/penyelenggara  program  dituntut  untuk  mampu  merancang, menyusun  atau  mengembangkan  media pembelajaran efektif yang dapat  digunakan  dalam  proses  pembelajaran  yang dikelolanya (Sujarwo. 2012).
Secara garis besar atau pada umumnya, proses penyusunan atau pengembangan media pembelajaran meliputi langkah-langkah yang dapat dilakukan sebagaimana pada Tabel 2. berikut.  
 
Tabel 2.
Proses Penyusunan/Pengembangan Media Pembelajaran
 
Sumber: Departemen Pendidikan Nasional (1989/1990).

C.  Metode dan  Media Pembelajaran Papan Casing
Banyak faktor penghambat peningkatan kemampuan membaca warga belajar KF diantaranya yaitu pengalaman belajar warga belajar yang kurang, kualitas tutor/ narasumber dalam mengajar yang rendah, sarana prasarana dalam kegiatan pembelajaran minim, tingkat kecerdasar warga belajar yang memang sudah rendah, dan tidak efektifnya metode pembelajaran yang digunakan, khususnya metode membaca kurang menarik minat belajar warga. Sebenarnya banyak cara untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan agar warga belajar cepat paham dan memiliki kemampuan membaca dengan baik. Berikut ini sebagian metode membaca yang dapat digunakan tutor dalam pembelajaran KF:
a.         Metode Suku Kata
b.        Metode Huruf dan Gambar
c.         Metode SAS (struktur analitik sintetik/struktur urai rangkai)
d.        Metode Visual, Auditory, Kinesthetic, Tactile (VAKT)
Dalam metode cantol ini dapat diperkenalkan suku kata yang terdiri dari gabungan huruf yang dibantu dengan cantolan berupa gambar dengan menggunakan kartu bacaan untuk mempermudah anak dalam mengingat seluruh suku kata, kemudian dilanjutkan pembelajaran dengan Game/permainan yang membuat visual dan auditory warga belajar ikut bekerja melalui tebak kata dalam membantu warga belajar mengingat bunyi dan bentuk suku kata. Karena metode ini mengembangkan aspek visual, auditorial dan kinestetik.
Metode membaca sistem cantol merupakan sebuah metode yang berpegang pada prinsip “belajar yang menyenangkan”. Mengapa penulis mengangkat metode ini untuk mendampingi media pembelajaran Papan casing, karena menurut pengalaman penulis sebagai tutor Keaksaraan Fungsional, menemukan bahwa warga belajar lebih menyukai pembelajaran dengan hal-hal yang menyenangkan, dan melibatkan mereka dalam praktik kerja langsung, sehingga pembelajaran tidak menimbulkan kebosanan yang membuat mengantuk di kelas.


BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Berdasarkan latar belakang dan hasil pembahasan yang telah disajikan pada karya tulis di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.    Metode dan media pembelajaran Keaksaraan Fungsional dengan memanfaatkan papan casing, dapat memberikan kegiatan pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan pemahaman warga belajar dalam kegiatan pembelajaran Keaksaraan Fungsional.
2.    Metode dan media pembelajaran Keaksaraan Fungsional dengan memanfaatkan papan casing dapat memudahkan tutor dalam menyediakan dan membawa media Pembelajaran ketempat belajar warga belajar Keaksaraan Fungsional.
3.     Media pembelajaran Keaksaraan Fungsional dengan memanfaatkan papan casing dapat meningkatkan minat dan ketertarikan warga belajar terhadap media pembelajaran yang digunakan dalam Pembelajaran Keaksaraan Fungsional. 
B.       Rekomendasi
Mengingat  pentingnya  pengembangan media pembelajaran Keaksaraan Fungsional dengan memanfaatkan papan casing Belajar ini untuk meningkatkan efektivitas dan kemampuan belajar warga belajar KF. Desain model dan kerangka program pembuatan media pembelajaran papan casing seperti yang telah diungkapkan dalam karya tulis ini karena itu perlu direkomendasikan untuk diterapkan dalam berbagai aspek penyelenggaraan program-program Keaksaraan Fungsional di masyarakat yang bersangkutan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.     Motivasi kegiatan penyelenggaraan program kegiatan Keaksaraan Fungsional yang sudah baik selama ini perlu dipertahankan, ditingkatkan dan dikembangkan dengan upaya-upaya yang memperkaya pengembangan media pembelajaran Keaksaraan Fungsional yang efektif dan efisien.
2.    Kepada pihak terkait yang berkepentingan dalam menentukan kebijakan program, agar dapat menerapkan mekanisme penyelenggaraan proyek pendidikan masyarakat yang efisien dari hasil masukan yang mengakomodir kebutuhan tutor dan warga belajar untuk manfaat yang lebih besar terhadap kebutuhan tutor dan warga belajar itu sendiri.
3.   Desain model dan kerangka program pembuatan media pembelajaran papan casing seperti yang telah diungkapkan dalam karya tulis ini, yang memiliki keunggulan dari segi efektifitas dan efisiensi pelaksanaan, dapat diterapkan pada masing-masing wilayah kerja Pamong belajar, dan tutor, penyesuaian dilakukan berdasarkan hasil analisis kebutuhan Pamong Belajar itu sendiri dengan memperhatikan potensi masing-masing wilayah di daerah masing-masing.